Pahit yang Dinikmati
lampung@rilis.id
RILISID, — ”Dikasih paitan pak?” tanya mbak jamu gendong pagi itu.
”Ada apa aja mbak?”
”Ada Sambiloto, Brotowali, Kayu Pucang dan Ceplikan,”
Walaupun dua jenis yang pertama namanya sering ku dengar, tapi tak satupun dari ke empat jenis tadi yang benar-benar aku tahu rupanya.
Wow...alamak... Alangkah pahitnya. Tenggorokanku hampir saja memuntahkannya karena kaget, tak biasa. Untung segera kusogok dengan seteguk minuman manis penawarnya.
Padahal, kopi yang sering ku seruput setiap pagi juga pahit. Tapi ini beda. Terasa begitu getir di lidah. Nyegak di tenggorokan. Tentu karena aku bukan penikmat jamu.
Aku tiba-tiba teringat bukunya Mas Prie Ge ES: ”Aku Hidupku Humorku”. Walaupun belum membacanya langsung, aku dapat membayangkan kepiawaian Mas Prie menguliti setiap rangkaian perjalanan hidupnya yang lebih mirip parodi kegetiran dan kepahitan secara jenaka.
”Derita itu, jika tenang kita menatapnya, ternyata penuh humor di dalamnya,” begitu tulisnya dalam ”Refleksi” di akun Facebook-nya.
”Saya bisa saja melewatinya dengan menggugat pemerintah, memprotes banyak pihak, dan bahasa-bahasa ’gerutu’ lainnya,” jelas Mas Prie dalam sebuah podcast.
Ada ribuan perspektif dalam melihat kegetiran.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
