Meredupnya Nasionalisme Kita
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — JANGAN dulu bicara tentang nasionalisme dan cinta tanah air, jika untuk mengibarkan bendera merah putih saja tidak mau.
Mestinya memasuki bulan Agustus ini kita mulai sibuk untuk mempersiapkan pesta rakyat, dengan menghias pagar dan halaman rumah masing-masing dan mengibarkan bendera merah putih.
Lalu, anak-anak muda dengan didukung penuh para orang tua mengemas acara ’tujuh belasan’ dalam rangka tetap terpatrinya semangat patriotisme dan bela negara serta cinta tanah air.
Lagu-lagu perjuangan pun berkumandang melalui media radio maupun televisi sebagai wujud rasa cinta tanah air tadi.
Apa yang kita saksikan hari ini? Semua berjalan seperti biasa, tanpa greget. Bendera merah putih hanya nampak berkibar di jalan protokol, kompleks pertokoan dan perkantoran, itu pun tidak semua.
Sementara, banyak warga masyarakat yang merasa terpaksa untuk memasangnya karena ada perintah dari ketua RT atau merasa tidak enak dengan tetangga.
Sedemikian pentingkah memasang bendera merah putih? Penting, bahkan sangat penting karena di dalamnya terkandung sebuah proses yang luar biasa.
Proses ini dinamakan pembelajaran dan penanaman pemahaman akan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan. Khususnya bagi para remaja dan generasi muda agar paham tentang sebuah perjalanan panjang dan juga melelahkan demi untuk mencapai kemerdekaan.
Fenomena ini harus dilihat sebagai sebuah ancaman yang sangat serius dalam konteks perjalanan bangsa ke depan.
Jika hal ini terus dibiarkan, jangan salahkan apabila generasi di era 10 tahun ke depan tidak dapat menerima secara utuh saat disodorkan cerita tentang sejarah proklamasi kemerdekaan, tentang kebangkitan nasional, sumpah pemuda, dan sejarah pergerakan nasional lainnya.
HUT RI
Nasionalisme
17 Agustus
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
