Meredupnya Nasionalisme Kita
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Inilah tantangan yang harus mendapat jawaban, khususnya oleh lembaga Pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sejak bergulirnya reformasi di negeri ini, kita telah kehilangan jati diri sebagai bangsa timur yang santun dan bermartabat. Bangsa yang di masa lalu selalu mengedepankan rasa kesetiakawanan dan solidaritas sosial.
Rakyat pun semakin bingung, sosok mana yang pantas menjadi figur pemimpin maupun tokoh yang patut untuk diteladani.
Kita seperti sedang berjalan di alam yang gelap gulita, satu sama lain saling bertabrakan atau sengaja untuk bertabrakan. Ironis dan menyedihkan.
Mengapa semua ini bisa terjadi? Salah satu jawabnya adalah bahwa kita telah lupa sejarah. Perjalanan sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan perjuangan para pendahulu telah ditinggalkan.
Proklamasi kemerdekaan tidak akan pernah lahir tanpa didahului dengan lahirnya Sumpah Pemuda 1928 dengan ikrar bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.
Ikrar tersebut tidak mungkin terwujud apabila masing-masing tokoh pemuda Indonesia waktu itu membawa kepentingan kedaerahan dan kelompoknya.
Sederet nama pejuang telah terukir dalam sejarah, salah satunya adalah gerakan Budi Utomo yang dimotori oleh sekelompok pemuda di tanah Jawa.
Kehadiran pergerakan Budi Utomo ini secara spontan mendapat sambutan dari para pemuda di luar Jawa, karena dinilai mampu mempersatukan berbagai perbedaan yang ada terutama dari sisi agama.
Pergerakan Budi Utomo inilah sebagai kunci awal pergerakan pemuda dan sebagai embrio lahirnya Sumpah Pemuda 1928.
HUT RI
Nasionalisme
17 Agustus
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
