Mati Bersama Esti
Wirahadikusumah
Saya lantas bertanya, bagaimana jika ada seseorang, atau kelompok, atau lembaga, yang siap mem-backup-nya, untuk membongkar semua itu. Termasuk membiayainya untuk bongkar-bongkaran?
Mbak Esti dengan tegas menyatakan kesiapannya.
”Mau banget Mas. Apalagi, ibaratnya, saya ini hanya memegang (maaf) ’tai’ sedikit. Sementara, saya tahu ada orang lain yang berlumuran ’tai’,” jawabnya.
Dia berharap, yang berlumuran ”tai” itu ikut ”mati bersama” dengannya. Karena, ia merasa apa yang ditanggungnya saat ini tidak adil. Dan dia sangat yakin dengan bukti yang dimilikinya.
”Apa yang mereka lakukan itu melebihi dari saya. Saya bukan yakin lagi, tapi sangat yakin. Makanya, saya siap mengungkapnya. Saya berharap ada yang backup, saya tidak punya duit. Bukti-buktinya sudah saya pegang,” akunya.
Dia mengungkapkan, sedari kecil sudah diajari untuk berani oleh ayahya. Karena itu, jika ada yang ”menjual”, dia akan mengumpulkan uang untuk ”membelinya”.
"Jika perlu saya borong!” cetusnya.
Dalam kasus ini, menurut Mbak Esti, dirinya sudah ”hampir mati”, karenanya orang lain yang terlibat juga harus ”mati” bersamanya.
”Saya sedang mengumpulkan sisa-sisa tenaga, agar mereka mati bersama saya,” katanya.
Nantinya, imbuh dia, publik akan terperangah, ketika orang yang dimaksudnya terlibat itu terungkap.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
