Buku Puisi Isbedy 'Menungguku Tiba' Beredar, Siapa Pemesan Pertama?
Gueade
Bandar Lampung
Buku yang ditangani Lukman Hakim untuk memeriksa aksara ini didedikasikan kepada keluarga; Fitri Angraini (istri) dan keenam anaknya, yaitu Mardiah Novriza, Arza Setiawan, Rio Fauzul, Chairunnisa, Robbi Fadillah, dan Dzafira Adelia Putri Isbedy.
Dalam pengantar buku ini, Isbedy juga menyebut sejumlah nama yang selama ini banyak mendukung dia berproses dalam "jalan sunyi"-nya.
Dalam pengantarnya, Isbedy mengatakan, puisi ditulis bukan untuk dinikmati sendiri, penyairnya. Melainkan mesti dinikmati oleh banyak orang.
Setelah puisi lahir atau dilahirkan, ia sudah/harus menjadi milik publik. Artinya orang lain mesti membaca, menikmati, lalu mengapresiasi sebagai pengalaman bersama.
"Seperti usiaku, aku merasakan ternyata daundaun di pohon itu/akhirnya menguning. kurasakan duniaku semakin sunyi, kian sepi. Namun, kuyakin ini kesunyian dalam keriuhan – dalam riuh ada sepi, dalam kesunyian sekaligus pula merasakan riuh – yang tidak semua orang dapat diberi “anugerah” tersebut," ucapnya. (*)
Isbedy Stiawan ZS
Puisi
Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
