Wakili Ketua FRI dalam FGD, Rektor Teknokrat Bicara Reformasi Partai Politik
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Ditambahkannya, reformasi yang diharapkan bisa membawa perbaikan, politik, ekonomi dan pembangunan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang adil makmur.
Namun, masih kata Nasrullah, ternyata tidak seperti yang diharapkan. Menurutnya, reformasi sudah salah kaprah.
“Ini pembicaraan kaki lima atau kenyinyiran. Reformasi membuka peluang KKN merajalela, reformasi membuat rakyat hidup semakin susah,” katanya.
Reformasi juga memunculkan biaya politik tinggi. Biaya politik tinggi ini tidak mungkin dibiayai kader atau patriot-patriot.
“Sehingga perlu bantuan para komlomerasi. Yang terjadi saat ini, karena biaya politik tinggi baik dalam pemilu, pemilihan kepala daerah maupun presiden, konglomerasi turut membantu,” tuturnya.
Reformasi menurut Nasrullah, hanya sebuah estafet dan ini hanya sebuah nyinyiran atau obrolan yang terjadi di tataran kaki lima.
Menurut Nasrullah, FRI turut serta memberi gagasan-gagasan kepada partai politik. Apakah GBHN atau apakah namanya dihidupkan kembali. Juga perlu mempertimbangkan P4.
“Apa sudah diperlukan reformasi porpol. Reformasi parpol seperti apa yang ingin kita inginkan. FRI mengharapkan melalui fokus diskusi yang menghadirkan para pakar ini menelurkan gagasan-gagasan yang membangun keutuhan bangsa dan negara tercinta ini,” pungkas Rektor Teknokrat, salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik di Lampung. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
