Tabuh Lesung, Tradisi Ratusan Tahun di Desa Bagelen

Darmansyah Kiki

Darmansyah Kiki

Pesawaran

20 Agustus 2020 20:35 WIB
Budaya | Rilis ID
Tradisi tabuh lesung di Desa Bagelen, Pesawaran. FOTO: ISTIMEWA
Rilis ID
Tradisi tabuh lesung di Desa Bagelen, Pesawaran. FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Pesawaran — Malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah atau Kamis (20/8/2020) di Desa Bagelen, Gedongtataan, Pesawaran, terasa berbeda.

Masyarakat setempat memperingati Malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa itu dengan Gejog Suroan alias Tabuh Lesung. 

Tradisi ratusan tahun ini dimainkan oleh 4-5 orang atau lebih tergantung besar lesung yang digunakan. 

Mereka memukuli lesung yang terbuat dari kayu nangka secara bergantian dengan alu, pada bagian atas, samping, tengah, atau tepat di bagian cekungan. 

Maka terdengar bunyi “tok tek tok tek” bersahut-sahutan yang berirama unik sekaligus indah. Irama pukulan para penabuh lesung diiringi tembang Jawa sambil menari.

Bujirah atau lebih dikenal Mbah Wowo (67) mengatakan, tradisi tabuh lesung dimulai sehabis salat isya sampai pukul 24.00 WIB. 

Tikno (50), warga lainnya menjelaskan, nada-nada yang dihasilkan dari pukulan lesung menciptakan berbagai lagu seperti “Perkutut Manggung”.

Menurut dia, tradisi ini semakin sulit ditemukan karena kian berkurangnya pemain tabuh lesung. Selain itu kayu untuk membuat alu dan lesung susah didapat. (*)

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya