Tabuh Lesung, Tradisi Ratusan Tahun di Desa Bagelen
Darmansyah Kiki
Pesawaran
RILISID, Pesawaran — Malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah atau Kamis (20/8/2020) di Desa Bagelen, Gedongtataan, Pesawaran, terasa berbeda.
Masyarakat setempat memperingati Malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa itu dengan Gejog Suroan alias Tabuh Lesung.
Tradisi ratusan tahun ini dimainkan oleh 4-5 orang atau lebih tergantung besar lesung yang digunakan.
Mereka memukuli lesung yang terbuat dari kayu nangka secara bergantian dengan alu, pada bagian atas, samping, tengah, atau tepat di bagian cekungan.
Maka terdengar bunyi “tok tek tok tek” bersahut-sahutan yang berirama unik sekaligus indah. Irama pukulan para penabuh lesung diiringi tembang Jawa sambil menari.
Bujirah atau lebih dikenal Mbah Wowo (67) mengatakan, tradisi tabuh lesung dimulai sehabis salat isya sampai pukul 24.00 WIB.
Tikno (50), warga lainnya menjelaskan, nada-nada yang dihasilkan dari pukulan lesung menciptakan berbagai lagu seperti “Perkutut Manggung”.
Menurut dia, tradisi ini semakin sulit ditemukan karena kian berkurangnya pemain tabuh lesung. Selain itu kayu untuk membuat alu dan lesung susah didapat. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
