Burung Tak Bersayap, Prosa yang Lahir dari Bui Karya Penulis Rahasia
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Namun, terus dia, segera pikiran itu dihapus.
"Bukankah kreasi tak akan pernah mati? Bukankah imajinasi akan tetap hidup walau di pengasingan?"
Itulah pengantar di awal buku "Burung tak Bersayap" karya Dalem Tehang, seorang penulis yang orangnya masih dirahasiakan.
Isbedy sepakat. Dia teringat biografi seniman Sade (Marquis de Sade).
"Di dalam tahanan justru, kreativitasnya membuncah," ujar Isbedy.
Meski, imbuh sastrawan Lampung ini, Sade akhirnya meninggal di dalam tahanan karena melukai dirinya dan darahnya untuk menulis di tubuhnya.
"Sade lukai badannya karena sudah tak ada lagi alat untuk menulis. Dari buku, kertas tisu, taplak meja dengan tinta anggur disita sipir," ucap Isbedy.
Ia juga mengakui bahwa prosa dalam buku ini, sangat baik. Cerita-cerita yang tak ada hubungan dalam tahanan namun ditulis dari salah satu kamar di sana, berbicara ihwal kehidupan ini.
"Dalem Tehang meramu dengan kreatif, sehingga menarik dan enak dinikmati," ujar Isbedy.
Selain ia, Edwin Febriansyah juga turut mengumpulkan tulisan Dalem Tehang.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
