Tunggu FOMC, Rupiah Bakal Menguat Lagi
Ainul Ghurri
Jakarta
RILISID, Jakarta — Direktur Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Zulferdi meyakini, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, dalam dua minggu terakhir, nilai tukar rupiah tercatat terus mengalami penguatan.
"Rupiah cenderung menguat, walaupun belum tajam, masih di level Rp13.700 per dolar AS. Pagi ini sudah mencapai Rp13.730," katanya di Press Room BI Jakarta, Rabu (14/3/2018).
Ia meyakini, rupiah memiliki peluang besar untuk kembali menguat. Namun, prosesnya, akan terjadi pasca pertemuan Federal Open Market Committe (FOMC) pada 21 Maret 2018 mendatang. Sambil memantau perkembangan FOMC, potensi penguatan rupiah bakal didukung berbagai indikator, termasuk data perekonomian yang cukup positif, meliputi inflasi yang terjaga, pertumbuhan ekonomi sedang membaik dan cadangan devisa yang mencukupi.
"Apalagi setelah FOMC meeting terlaksana, pasar akan lebih stabil nanti," imbuhnya.
Ia menegaskan, nilai fundamental rupiah tidak pernah dipatok secara pasti, dengan begitu, mestinya nilai tukar rupiah bisa lebih menguat dari beberapa pekan terakhir ini.
"Nilai fundamental itu angka yang tidak pernah fix, disesuaikan dengan kondisi yang terjadi di domestik maupun global. Yang jelas, menurut kami bukan sesuai fundamental, jadi seharusnya bisa lebih kuat," ujarnya.
Meski demikian, pihaknya akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, agar pergerakan rupiah bisa melaju secara positif.
"Mudah-mudahan bisa terus bertahan. Kami berupaya, supaya trend ini bisa dipertahankan," tutupnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
