Tak Hanya di Kota, COVID-19 Bawa Perlambatan Ekonomi hingga ke Desa

Elvi R

Elvi R

Jakarta

9 April 2020 14:30 WIB
Bisnis | Rilis ID
Desa Sebuntal, Kecamatan Marang Kayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (1/5/2018), dengan menggunakan VUB Inpari 40. FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
Desa Sebuntal, Kecamatan Marang Kayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (1/5/2018), dengan menggunakan VUB Inpari 40. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Kepala bidang advokasi Binadesa Nur Hadi mengungkapkan, efek pendemi virus corona (COVID-19) telah masuk ke desa-desa. Perlambatan ekonomi saat ini tidak hanya dirasakan masyarakat kota saja, penduduk desa pun sudah mulai merasa gelisah.

"Beberapa daerah sudah panen sebenarnya, tapi COVID-19 ini menimbulkan dampak pada interaksi pasar karena kebijakan penjarakan sosial," ungkap Nur Hadi kepada rilis.id, Kamis (9/4/2020). 

Dia mengatakan, pemerintah perlu melakukan antisipasi krisis pangan di desa. Karena, tidak ada bantuan yang bersifat langsung ke desa kecuali swakelola dana desa.

"Sejumlah kemudahan seperti peringanan ansuran selama satu tahun sudah ada. Aturan dana desa untuk penanganan COVID-19 juga ada. Tapi, menurut kami yang belum jelas terkait skema antisipasi krisis pangannya," tutur Nuh Hadi.

Nur Hadi menyebut, skema antisipasi krisis pangan harus didesain lebih spesifik. Karena berkurangnya mobilitas manusia untuk bekerja secara drastis, termasuk di sektor petanian akan menggangu produksi pangan.

"Ditambah dengan rantai supplay yang down. Jalur distribusi pangan berkurang. Sementara itu permintaan akan terus meningkat," kata Nur Hadi.

Keadaan ini, menurutnya akan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen. Kendati demikian, tidak memicu kenaikan harga ditingkat petani, karena lonjakan hanya terjadi pada rantai pasokan tengah dan hulu. 

"Pemenuhan kebutuhan nasional tidak bisa optimal karena proses produksi hingga pascapanen tidak normal. Petani juga takut corona. Tapi, begitu harga naik petani akan kena dampak turunannya," terang Nur Hadi.

Oleh karenanya, Binadesa mengimbau jaringan petani untuk mengatur produksinya. Baik produksi besar dan skala rumahan.

"Produk jangan dijual semya karena desa harus punya skema cadangan pangan desa. Skala rumah tangga juga harus ada," katanya.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya