Pembangunan Bendungan Paselloreng Dukung Swasembada Pangan

Elvi R

Elvi R

Jakarta

3 Juli 2018 16:34 WIB
Bisnis | Rilis ID
Presiden Jokowi bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. FOTO: Humas PUPR
Rilis ID
Presiden Jokowi bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. FOTO: Humas PUPR

RILISID, Jakarta — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus meningkatkan luasan irigasi yang mendapatkan suplai air bersumber dari bendungan. Pada periode 2015-2019 Kementerian PUPR menargetkan pembangunan 65 bendungan yang terdiri dari 49 bendungan baru dan 16 bendungan lanjutan. 

Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya meninjau progres konstruksi Bendungan Paselloreng di Desa Arajang Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengatakan sebanyak 8 bendungan yang mulai dikerjakan 3-4 tahun lalu akan selesai pada 2018. Delapan bendungan tersebut yakni Bendungan Rotiklot di NTT, Bendungan Tanju, Mila di NTB, Bendungan Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Bendungan Sei Gong di Batam, Bendungan Sindang Heula di Banten dan Bendungan Kuningan di Jawa Barat. 

Untuk Bendungan Paselloreng saat ini progres konstruksinya sudah 73,3 persen dan ditargetkan selesai akhir Februari 2019. “Bendungan Paselloreng mampu menampung 138 juta meter kubik untuk mengairi 7.000 hektar sawah. Bendungan yang kita bangun untuk menyiapkan air irigasi pertanian menuju swasembada pangan,” kata Presiden Jokowi yang didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi. 

Kapasitas tampungnya 10 kali lebih besar dibandingkan Bendungan Raknamo yang diresmikan Presiden Jokowi awal 2018 lalu sebesar 13,5 juta meter kubik dan lima kali lebih besar dari Bendungan Kuningan yang berkapasitas 25 juta meter kubik. 

Bendungan multifungsi ini juga dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk 4 kecamatan di Kabupaten Wajo sebesar 305 liter per detik, Konservasi Sumber Daya Air, pengendalian banjir Sungai Gilireng (1002 meter kubik per detik), perikanan air tawar, pengembangan Pariwisata, dan potensi listrik 0,8 mega watt. 

Konstruksi Bendungan Paselloreng dikerjakan oleh PT. Wijaya Karya – PT. Bumi Karsa, KSO (Kerjasama Operasi) dengan biaya Rp736 miliar. Sementara sebagai konsultan supervisi adalah PT. Mettana, PT. Timor Konsultan, PT. Raya Konsultan KSO dengan nilai kontrak supervisi sebesar Rp 37,5 miliar. 

Konstruksi bendungan telah dimulai Juni 2015 dan ditargetkan selesai lebih cepat 4 bulan dari jadwal kontrak yakni Juli 2019 menjadi selesai akhir Februari 2019. Untuk pengadaan lahan, dari luas yang dibutuhkan 1.849,88 hektare, sudah dibebaskan 681,98 hektare (36,87 persen) sisanya dalam proses penyelesaian pembayaran bertahap untuk area genangan.

Di Sulsel, selain Bendungan Paselloreng juga tengah diselesaikan pembangunan dua bendungan yakni Bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa dan Pamukkulu di Kabupaten Takalar yanga akan menambah tampungan air total sebesar 256 juta meter kubik. 

Bendungan Karalloe mulai dibangun Desember 2013, saat ini progresnya sudah mencapai 54 persen dan ditargetkan rampung pada 2019. Kapasitas tampungnya sebesar 40 juta meter kubik. Bendungan Pamukkulu mulai dibangun bulan November 2017, memiliki kapasitas tampung maksimum 78 juta meter kubik. Saat ini progres konstruksinya mencapai 2,8 persen. 

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan mendukung penuh Provinsi Sulsel sebagai lumbung pangan nasional. “Di Sulsel, masih terdapat hamparan lahan persawahan diatas 3.000 hektar yang sudah sulit ditemui di daerah lain. Produktivitasnya kita tingkatkan dengan ketersediaan air yang berkelanjutan dari bendungan,” jelas Menteri Basuki. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya