Mendag Minta Hentikan Pertentangan Impor Beras
Ainul Ghurri
Jakarta
RILISID, Jakarta — Keputusan pemerintah membuka keran impor beras sebanyak 500 ribu ton, masih jadi pertentangan di berbagai kalangan. Pasalnya, keputusan impor itu mendekati panen raya petani.
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, meminta keputusan impor beras tidak menjadi pertentangan publik. Menurutnya, hal itu sudah jadi keputusan pemerintah dalam rapat setingkat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
“Sekali lagi jangan dipertentangkan antara impor beras dengan petani, kebijakan impor itu kami tidak mau main-main dengan perut, dengan makanan,” tegasnya di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (21/2/2018).
Mendag mengklaim, keputusan ini bukan berarti tak berpihak pada petani, melainkan karena harga beras yang naik. Dengan begitu, kata Enggar, untuk menurunkan harga tersebut, pemerintah mengambil langkah mengimpor beras.
“Bagaiman dengan petani? Sudah ada ketentuan pada saat rapat Pak Menko Perekonomian dan Menteri Pertanian bahwa, selain impor beras, Bulog ditugaskan untuk menyerap gabah,” ujarnya.
Enggar menambahkan, keputusan impor juga disertai penetapan fleksibilitas pembelian gabah/beras oleh Perum Bulog sebesar 20 persen, sesuai keputusan rapat.
“Nah, fleksibilitas ini memberikan ruang kepada Bulog untuk menyerap gabah. Jadi, impor tidak berarti pemerintah tidak perduli kepada petani. Keberpihakan Pemerintah kepada petani tetap, bahkan lebih,” tuturnya.
“Kalau sekarang stok berkurang, dan terjadi amit-amit bencana dan sebagainya, maka kita jangan main-main dan mempermainkan perut. Itu tidak pernah dan pemerintah tidak mau ambil risiko itu. Jadi, saya melihat kondisi seperti ini melihat harga yang tinggi, ya kita impor. Tetapi petani dijamin, jadi tidak perlu ada kekhawatiran,” pungkasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
