Klaim Terjadi Anomali, Heri Gunawan: Jangan Mencari Alasan

Nailin In Saroh

Nailin In Saroh

Jakarta

1 Februari 2018 22:49 WIB
Bisnis | Rilis ID
Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
Rilis ID
Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILISID, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI, Heri Gunawan, mengkritisi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait penurunan konsumsi rumah tangga kala pertumbuhan ekonomi kuartal III-2017 sebesar 5,06 persen. Menurutnya, tiada anomali di balik fenomena tersebut.

"Yang ada, adalah fakta, bahwa 80 persen masyarakat sedang kesusahan akibat daya beli yang terus tertekan. Pemerintah tak perlu mencari-cari alasan yang tak masuk akal. Angka-angka sudah berbicara banyak. Bahkan, dari sumber pemerintah sendiri, yaitu BPS," ujarnya kepada rilis.id di Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, sebelumnya menyatakan, terjadi anomali di masyarakat. Sebab, konsumsi masyarakat menurun 0,02 persen dari 4,95 persen. Padahal, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2917 cukup baik.

Kenyataannya, jelas Heri, penurunan pertumbuhan konsumsi dan penjualan ritel disebabkan distorsi daya beli masyarakat menengah ke bawah yang terus tergerus. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), imbuh dia, pun mengeluhkan sepinya pengunjung ke gerai para anggotanya. 

"Misal, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) yang sepanjang semester I/2017 mengalami penurunan laba bersih hingga 71,03 persen dari periode yang sama tahun lalu, atau dari Rp105,5 miliar menjadi Rp30,5 miliar. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan, adalah penurunan daya beli masyarakat," urai Wakil Ketua Umum DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.

Heri menambahkan, persewaan ruang perkantoran di kawasan bisnis juga turun 18 persen. Begitu pula merosotnya penjualan sepeda motor medio Januari-Juli 2017 sebesar 13,1 persen. Juni 2017, malah turun 30 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. 

"Bahkan, Gabungan Pengusaha Makanan Dan Minuman Indonesia (Gapmmi) tegas menyatakan, bahwa daya beli masyarakat turun 10 persen dibanding tahun lalu," tukasnya.

Politisi Gerindra itu melanjutkan, lesunya transaksi jual-beli turut dirasakan warung-warung kopi dengan segmen pasar anak-anak muda. Kalangan remaja kelas menengah bawah memiliki batas kemampuan beli yang merosot hanya untuk menikmati kopi. "Uang jajan ekstra yang dulunya bisa Rp35 ribu-Rp50 ribu di kantong, kini tidak ada lagi," katanya.

Bukti menurunnya penjualan juga terjadi jelang hari raya lalu di pusat perbelanjaan tekstil Tanah Abang, Jakarta Pusat. Rata-rata penjualan pedagang Tanah Abang ditaksir melorot sampai 30 persen dibanding tahun lalu. Malah, Blok A, B, dan F Tanah Abang omzetnya merosot 50-70 persen. "Itu semua fakta yang tak bisa ditepis," ketus Politikus Gerindra ini.
 
Karenanya, Heri menganggap, pemerintah menutup-nutupi kenyataan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sebab, saat mayoritas masyarakat mengeluhkan tergerusnya daya beli, pemerintah sibuk cari-cari alasan.

"Di saat mayoritas masyarakat mengeluh akibat pendapatan yang kurang, seperti lembur, komisi, dan lain-lain, pemerintah masih saja berkelit. Di saat pengeluaran biaya pendidikan oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah menggerus pengeluaran masyarakat, seperti biaya les, buku, pemerintah terus saja menepis fakta hanya untuk kepentingan pencitraan. Di saat terjadi peningkatan signifikan pengeluaran untuk biaya listrik, makanan segar, pemerintah terus saja bergeming seolah-olah tak terjadi apa-apa," tutupnya.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Unknown
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya