Indonesia Menuju Poros Maritim Energi, Ini Kendalanya

Default Avatar

Anonymous

Jakarta

7 Maret 2018 17:32 WIB
Bisnis | Rilis ID
 Focus Group Discussion IKA ITS di Jakarta. FOTO: Ika ITS
Rilis ID
Focus Group Discussion IKA ITS di Jakarta. FOTO: Ika ITS

RILISID, Jakarta — Potensi ekonomi maritim Indonesia ternyata cukup besar, mencapai 1,33 triliun dolar Amerika Serikat per tahun. Dengan potensi tersebut, seharusnya Indonesia sudah menjadi negara poros maritim dengan nilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 

"Sayangnya, potensi sebesar itu masih terkendala konektivitas nasional yang belum optimal karena faktor geografis sehingga infrastruktur energi berpengaruh pada pasokan energi yang belum merata," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha dalam siaran pers yang diterima rilis.id, Rabu (7/3/2018).

“Tanpa infrastruktur energi yang memadai dan menjangkau seluruh pelosok, maka konektivitas maritim yang dicanangkan pemerintah akan gagal," tambahnya.

Solusinya, lanjut Satya, harus dibangun armada kapal pembangkit (Marine Vessel Power Plant/MVPP) yang diproduksi industri dalam negeri. Karena MVPP yang ada saat ini semuanya sewa kontrak dengan Pemerintah Turki. 

Kemudian, tambah politisi senior Golkar ini, membangun jaringan transmisi distribusi gas nasional melalui kapal-kapal domestik pengangkut CNG dan LNG dengan melibatkan tenaga kerja lokal. "Juga mengembangkan fleet perkapalan nasional khususnya kapal pendukung logistik untuk migas,” terang Satya.

Sebelumnya, dalam Focus Group Discussion (FGD) IKA ITS di Jakarta, baru-baru ini, Satya megatakan kelangkaan energi di masa depan yang bersumber dari bahan bakar fosil menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Karena itu, kata Satya, dibutuhkan riset dan inovasi dengan melibatkan seluruh komponen (stake holders) dalam melakukan terobosan-terobosan kebijakan untuk menopang pengembangan energi baru dan terbarukan.

"Hal yang cukup penting untuk diperhatikan adalah ketersediaan infrastruktur energi dalam rangka pengembangan konektivitas nasional. Terutama pemerataan sumber daya energi pada daerah strategis di pulau-pulau terpencil di Nusantara," ujar Ketua Dewan Pakar Ikatan Alumni ITS ini.

Menurut Satya, pengembangan blok-blok migas laut dalam di wilayah timur Indonesia baik existing maupun yang akan dikembangkan, seperti ONWJ, Masela, Indonesia Deepwater Development (IDD), membutuhkan jaringan kapal logistik pendukung sebagai bagian integral dari supply chain produksi migas.

“Blok Masela dengan potensi yang cukup besar berada dalam posisi geografis yang terpencil dan sulit terjangkau, maka harus didukung konektivitasnya dengan kapal-kapal logistik migas agar siklus produksinya tetap berjalan lancar dan sesuai target,” pungkas Satya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya