Digerus Digitalisasi, Tenaker Indonesia Harus...
Ainul Ghurri
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, persaingan kerja akan semakin ketat dan terancam di era digital. Untuk itu, diharapkan sumber daya manusia (SDM) mempunyai keterampilan memadai.
"Berdasarkan temuan McKinsey, sebanyak 52,2 juta profesi akan hilang. Itu setara jumlah angkatan kerja kita. Jadi bukan main-main," ungkapnya di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (21/2/2018).
Mantan Menteri Keuangan itu memaparkan, era ekonomi digital, profesi yang bakal hilang adalah pekerjaa dengan keterampilan dasar yang sifatnya operator. Lanjutnya, ijazah sebagai salah satu syarat kelulusan tidak lagi cukup menjadi modal kerja, kebutuhannya lebih spesifik terhadap keterampilan yang berbasis kompetensi.
"Sebanyak 60 persen jabatan pekerjaan di dunia akan memakai otomatisasi, 30 persen akan digantikan oleh mesin canggih. Jadi tidak ada orangnya, pakai mesin semua," paparnya.
Meski begitu, masih ada pekerjaan yang bakal bertahan dan tidak akan terancam digitalisasi. Antara lain, surveyor, arsitek manager konstruksi, tenaga kesehatan dan pengajar.
"Guru dan dosen itu tetap diperlukan, meski itu Universitas jarak jauh, beda rasanya kuliah video conference dengan kuliah ketemu langsung," ujarnya.
Untuk itu, Bambang berharap, guna mengimbangin perkembangan ekonomi digital, pemerintah perlu melakukan sertifikasi berbasis kompetensi. Menurutnya, selain ijazah, pendidikan formal seharusnya memiliki vokasi yang basisnya non pendidikan formal.
"Sertifikasi ini bisa diambil oleh pekerja formal maupun informal. Sehingga, kita akhirnya bisa mengurangi pengangguran karena digitalisasi tersebut, dengan menciptakan tenaga kerja yang bisa masuk ke pasar kerja digital," tutupnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
