BPS Sebut Ekspor-Impor dengan Cina Alami Penurunan Meski Tak Ada Corona
Nailin In Saroh
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto menyebutkan posisi perdagangan ekspor dan impor Indonesia ke Cina pada Januari 2020 sudah mengalami penurunan. Meski pada bulan itu pemerintah belum membatasi kegiatan tersebut seiring mewabahnya virus corona.
Hal ini didapat dari posisi ekspor non migas ke Cina terkoreksi sebesar USD 211,9 juta atau turun sebesar 9,15 persen. Sementara posisi impor non migas juga mengalami penurunan yakni USD 190,5 juta atau turun 4,61 persen jika dibandingkan posisi bulan sebelumnya.
Suhariyanto menjelaskan beberapa komponen ekspor yang berkurang dari negeri Tirai Bambu tersebut yakni untuk golongan barang lemak dan minyak hewan atau nabati.
"Pada Januari 2020 ekspor terhadap kelompok barang ini hanya USD 1,36 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi bulan sebelumnya yakni USD 2,06 miliar, " kata kepala BPS di Kantornya, Jakarta, Senin (17/2/2020).
"Penurunan terbesar ekspor non migas terjadi pada kelompok barang ini sebesar USD 703,2 juta atau 34,08 persen," sambungnya.
Kemudian, lanjut Suhariyanto, penurunan ekspor lainnya juga tercatat pada kelompok barang bijih, terak, dan abu logam yang turun mencapai USD 309,8 juta atau 80,17 persen. Di mana posisi ekspor pada Januari 2020 kelompok barang ini hanya meraih sebesar USD 76 juta, berbanding terbalik jika dibandingkan bulan sebelumnya yakni mencapai USD 386,4 juta.
"Sementara itu, posisi impor yang mengalami penurunan terbesar dari Cina yakni golongan barang buah-buahan sebesar USD 180,4 juta atau turun 76,21 persen. Penurunan impor lainnya juga diikuti oleh kelompok barang gula dan kembang gula sebesar USD 139,9 juta atau turun 78,46 persen," paparnya.
Suhariyanto menambahkan, posisi penurunan yang terjadi lebih disebabkan karena harga komoditas. Di mana, sepanjang Desember hingga Januari, harga komoditas rata-rata mengalami kenaikan khususnya yang non migas.
Misalnya saja harga minyak sawit yang naik sekitar 8,44 persen. Sementara harga batubara dan karet juga mengalami kenaikan masing-masing 6,5 persen dan 1,20 persen.
"Sebaliknya yang turun di antaranya nikel tembaga dan timah. Fluktuasi beberapa komoditas tentu pengaruh pada nilai ekspor dan impor Indonesia di 2020," jelasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
