Walhi Ungkap 5 Akar Masalah Banjir di Bandar Lampung: Dari Drainase hingga Hilangnya Daerah Resapan
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Faktor lain yang tak kalah krusial adalah persoalan sampah. Irfan menyebut, sedimentasi sungai di Bandar Lampung kini lebih banyak dipenuhi sampah ketimbang material alami seperti pasir atau tanah.
“Ini menunjukkan pengelolaan persampahan belum merata. Banyak masyarakat tidak memiliki akses membuang sampah dengan benar,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kondisi tempat pembuangan sementara (TPS), termasuk di kawasan Terminal Rajabasa, yang dinilai belum layak dan mencerminkan buruknya pengelolaan sampah di pintu masuk kota.
Irfan menegaskan, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh, tidak parsial. Pembenahan drainase, normalisasi sungai, penambahan RTH, hingga perbaikan sistem pengelolaan sampah harus berjalan beriringan.
“Harus dikerjakan bersama-sama dan berkelanjutan agar frekuensi dan intensitas banjir bisa ditekan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya penegakan aturan yang adil, baik terhadap masyarakat maupun korporasi yang melanggar.
Selain itu, ia menilai anggaran daerah seharusnya lebih difokuskan pada upaya pencegahan daripada penanganan pascabencana.
“Daripada habis untuk bantuan dan santunan, lebih baik difokuskan ke pencegahan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Irfan mendorong pemerintah membuka ruang dialog dengan berbagai pihak, termasuk Forum Daerah Aliran Sungai (DAS), untuk merumuskan langkah konkret penanganan banjir berbasis kolaborasi.
“Masalahnya kompleks, tapi bukan tidak bisa diselesaikan jika ada kemauan bersama,” pungkasnya. (*)
Walhi Lampung
Banjir Bandar Lampung
penyebab banjir
banjir bandang
Irfan Tri Musri
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
