Prodi SPI UIN RIL Gelar Sarasehan dan Launching Video Tour Digitalisasi Cagar Budaya Nasional Lampung
Fi fita
Bandar Lampung
Uswatun berharap program ini dapat terus dikembangkan sebagai rujukan pembelajaran dan sarana peningkatan literasi sejarah, sehingga masyarakat semakin mudah mengenal dan mengakses warisan budaya yang ada di Lampung.
Launching video tour tersebut disaksikan oleh mahasiswa yang hadir. Video yang ditayangkan berupa video tour 360 derajat dari sejumlah lokasi cagar budaya nasional di Provinsi Lampung.
Dekan Fakultas Adab UIN RIL, Dr. H. Ahmad Bukhari Muslim, Lc., M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Fakultas Adab memiliki komitmen kuat dalam pengembangan keilmuan sejarah, kebudayaan, dan peradaban Islam yang berakar pada khazanah lokal, nasional, dan global.
Menurutnya, kegiatan ini sangat relevan dengan visi Fakultas Adab sebagai ruang akademik yang tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga mentransformasikannya kepada masyarakat luas.
Pemanfaatan media digital dalam mendokumentasikan serta memperkuat informasi tentang situs-situs purbakala seperti Rahardjo, Prasasti Palas, Pasemah, dan Prasasti Batu Bedil dinilai sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan era digitalisasi.
Bukhari menegaskan bahwa warisan budaya tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga keberlanjutan pewarisan nilai, identitas, dan kesadaran sejarah kepada generasi muda. Fakultas Adab, lanjutnya, siap menjadi mitra strategis dalam pengembangan kajian dan diseminasi kebudayaan berbasis riset dan inovasi.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu-Lampung yang diwakili oleh Deni Ardiansyah menyampaikan bahwa cagar budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan, identitas, dan jati diri bangsa.
Tantangan pelestarian cagar budaya saat ini, menurutnya, tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga bagaimana cagar budaya dapat diakses, dipahami, dimanfaatkan, dan berguna bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang secara geografis tidak dapat mengunjungi lokasi secara langsung.
“Di sinilah peran digitalisasi menjadi sangat strategis. Teknologi digital memungkinkan cagar budaya hadir melampaui batas ruang melalui dokumentasi digital tour, arsip daring, hingga media pembelajaran interaktif,” jelasnya.
Digitalisasi, tegasnya, bukan untuk menggantikan nilai autentik cagar budaya, melainkan untuk memperluas jangkauan pemanfaatannya.
Uin ril
universitas Islam Negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
