Musim Hujan, Kasus DBD di Pringsewu Capai 514 Kasus
Yuda Haryono
Pringsewu
“Sebagian besar masyarakat lebih memilih fogging, padahal hanya membunuh nyamuk dewasa. Telur dan jentik tidak mati tanpa PSN. Jika PSN tidak dilakukan, perkembangbiakan nyamuk tetap berlangsung,” ujar dr. Hadi.
Selain perilaku masyarakat, faktor perubahan iklim, cuaca, serta tingginya mobilitas penduduk turut berkontribusi terhadap peningkatan penularan.
Memasuki musim hujan, intensitasnya yang tinggi meningkatkan peluang munculnya akumulasi udara yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“Meluangkan waktu 15-30 menit saja setiap minggu untuk menguras, menutup, dan mendaur ulang wadah yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk dapat menurunkan risiko DBD secara signifikan,” kata Hadi.
Warga juga diminta menghindari gigitan nyamuk dengan cara menggunakan lotion antinyamuk saat beraktivitas di luar rumah serta menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender atau sereh merah.
“Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua,” tutup dr Hadi. (*)
Pringsewu
kasus DBD Pringsewu
meningkat tahun 2025
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
