Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia Uji Ketahanan Beton Masjid Al-Hijrah
lampung@rilis.id
Lampung Selatan
Tahapan pertama dimulai dengan preparasi permukaan beton. Pada tahap ini, mahasiswa membersihkan permukaan elemen struktur baik kolom, balok, maupun pelat lantai dari lapisan plesteran, sisa semen, cat, atau kotoran menggunakan batu gerinda. Langkah ini sangat krusial karena permukaan beton harus benar-benar rata, bersih, dan masif agar energi pantulan alat tidak teredam oleh lapisan luar yang rapuh.
Setelah permukaan siap, mahasiswa melanjutkan ke tahapan kedua, yaitu pembuatan grid penembakan. Di sini, mereka membuat pola garis-garis pembatas atau matriks berukuran sekitar 10 x 10 cm hingga 15 x 15 cm pada area uji. Di dalam area grid tersebut, ditentukan 10 hingga 12 titik penembakan spesifik dengan jarak antar titik minimal 25 mm, guna memastikan sebaran data yang representatif dan menghindari hantaman berulang pada titik yang sama.
Tahapan terakhir adalah proses penembakan dan pencatatan data. Alat Concrete Rebound Hammer ditekan secara tegak lurus (900) dan stabil terhadap permukaan titik uji hingga pegas internalnya terlepas dan menembakkan massa ke beton. Sesaat setelah dentuman pegas terjadi, mahasiswa langsung membaca indikator Rebound Number (Nilai R) yang muncul pada skala alat, lalu mencatatnya secara cermat untuk kemudian diolah ke dalam tabel kalkulasi mutu beton.
Data lapangan yang diperoleh berupa deretan angka Rebound Number tidak serta-merta langsung menunjukkan kuat tekan beton. Di sinilah letak pembelajaran penting bagi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia. Mereka dituntut untuk melakukan analisis statistika sederhana dan konversi mekanika pasca-pengujian.
Berdasarkan standar ASTM C805 atau SNI 4431:2011, nilai pantulan yang terlalu ekstrem (terlalu tinggi karena mengenai agregat keras, atau terlalu rendah karena mengenai rongga udara) harus dieliminasi dari perhitungan rata-rata. Setelah mendapatkan nilai rata-rata Rebound Number yang valid, mahasiswa mengonversikannya menggunakan grafik kalibrasi bawaan alat untuk memproyeksikan nilai kuat tekan karakteristik beton dalam satuan Megapaskal (MPa).
Melalui konversi ini, mahasiswa dapat menilai apakah kolom dan balok di Masjid Al-Hijrah sudah mencapai mutu yang direncanakan, misalnya f’c 25 MPa (setara K-300) yang umum digunakan untuk struktur bangunan bertingkat menengah, atau justru berada di bawah ambang batas aman.
Kegiatan kuliah lapangan ini merefleksikan implementasi nyata dari konsep Project-Based Learning (PBL). Bagi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, pengalaman memegang alat, merasakan tekanan pegas, dan mengatasi kendala teknis di lapangan seperti keterbatasan ruang tembak atau permukaan beton yang tidak seragam memberikan sensitivitas profesional (engineering sense) yang tidak akan pernah bisa didapatkan hanya dengan membaca buku teks.
Di sisi lain, kegiatan ini membawa dampak sosial yang masif. Hasil uji evaluasi mutu beton yang disusun oleh para mahasiswa ini nantinya akan diserahkan dalam bentuk laporan teknis formal kepada pengurus Masjid Al-Hijrah. Laporan ini menjadi dokumen rekomendasi yang sangat berharga bagi pihak takmir masjid untuk menentukan langkah renovasi, pemeliharaan, atau peningkatan kapasitas beban bangunan di masa mendatang demi keselamatan para jemaah. (*)
Teknik Sipil
Universitas Teknokrat Indonesia
Beton
Masjid Al-Hijrah
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
