Kota Metro, 81 Tahun Lalu dan Sekarang

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

9 Juni 2018 07:00 WIB
Historia | Rilis ID
Kian Amboro, Sejarawan Universitas Muhammadiyah Metro
Rilis ID
Kian Amboro, Sejarawan Universitas Muhammadiyah Metro

Akan tetapi tentunya akan lebih baik jika momen peringatan hari jadi daerah, dijadikan juga sebagai momen refleksi bersama antara pemerintah dengan warganya. Merefleksi sudah sampai sejauh mana kaki dilangkahkan dan sejauhmana sejarah dituliskan.

Tepat 81 tahun yang lalu wilayah yang kini disebut Metro, telah membuat sejarah baru dengan perubahan statusnya menjadi ibukota kolonisasi Sukadana. Bahkan dalam beberapa catatan laporan tahunan pemerintah Hindia Belanda, daerah ini menjadi daerah yang cukup dibanggakan dikarenakan keberhasilan program kolonisasinya dengan pengeluaran biaya oleh pemerintah Hindia Belanda sangat murah.

Hal berbeda dengan kolonisasi pertama yakni  Gedong Tataan sebagai daerah kolonisasi pertama tahun 1905. Dalam waktu delapan tahun sejak dibuka, kolonisasi Sukadana (Metro) telah melebihi Gedong Tataan yang sudah lebih dari 35 tahun dibuka lebih dahulu.

Jika dilihat  perkembangan tanah-tanah kolonisasi DI karesidenan Lampung, ternyata kolonisasi Sukadana menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Sukadana yang secara bertahap mulai dibuka tahun 1932, pada akhir tahun 1941 telah berpenduduk kolonis kurang lebih 91.000 jiwa, atau sekitar dua kali lebih banyak jumlah penduduk kolonis Gedong Tataan yang didirikan tahun 1905 (Sjamsu, 1959:47-48).

Tidak hanya dari pesatnya perkembangan jumlah penduduknya, jumlah rata-rata hasil panen padi selalu meningkat tiap tahunnya, malah dapat dikatakan persediaan bahan makanan berlebih. Mulai tahun 1940 jumlah kelebihan padi selalu meningkat, dan sejak itu mulai diperkenankan oleh pemerintah Hindia Belanda masyarakat menjual kelebihan hasil panennya ke luar daerah dan mendirikan penggilingan-penggilingan padi partikulir.

Sejak diresmikan sebagai ibukota Sukadana, Metro telah menjadi tempat kedudukan seorang kontrolir, insinyur dan dokter pemerintah. Kota kolonisasi ini  mempunyai pasar yang besar, kantor pos, pesanggrahan, masjid, dan penerangan listrik. Dalam bidang pelayanan kesehatan, terdapat dua orang dokter di Metro, 13 mantri juru rawat, satu mantri malaria, 80 pembagi kinine, dua pembantu klinik, dan satu bidan.

Bagi Pemerintah Hindia Belanda, kolonisasi Sukadana memiliki tempat tersendiri yang cukup istimewa di karesidenan Lampung. Selain pertumbuhan pemukiman yang sangat cepat kurang dari waktu sepuluh tahun, pengembangan kolonisasi Sukadana dapat dikatakan berbiaya rendah, dibandingkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk proyek-proyek kolonisasi sebelumnya yang berbiaya sangat mahal dan tidak menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dalam waktu cepat.

Adapun proyek pembangunan kanal pengairan irigasi di kolonisasi Sukadana hanya menghabiskan biaya sekitar setengah juta gulden untuk areal seluas 70.000 bouw (baca: bau) (1 bau=0,7 ha), biaya yang sangat hemat itu dikarenakan dalam proses pembangunan kanal irigasi melibatkan seluruh penduduk kolonis dengan pembagian jadwal kerja yang teratur.

Lalu bagaimana dengan hari ini?. Tentu tidak tepat rasanya jika kita refleksi dengan membandingkan Metro 81 tahun yang lalu dengan hari ini, jelas kondisinya sudah sangat jauh berbeda. Akan tetapi bukan berarti kita tidak dapat melakukan refleksi, satu poin penting yang perlu digarisbawahi adalah jika dimasa lampau Metro dapat mencapai kemajuan-kemajuannya, tentunya hal itu masih bisa diwujudkan juga pada hari ini.

Hari ini Kota Metro memiliki visi dan misi yang harus dicapai oleh seluruh warganya, tentunya melalui organisasi pemerintah daerah sebagai pemimpinnya.

Menampilkan halaman 3 dari 4

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya