Kota Metro, 81 Tahun Lalu dan Sekarang
lampung@rilis.id
RILISID, — MATAHARI bersinar sangat cerah pagi itu, di hari Rabu, 9 Juni 1937. Segala persiapan telah matang, tamu-tamu undangan sebagian telah hadir pada hari sebelumnya dan menginap di Pesanggrahan Hansje yang bergaya Swiss, terletak persis di timur alun-alun kota. Seperti telah menjadi jalannya takdir bahwa hari itu akan menjadi hari bersejarah, suasana dan cuaca alam sangat baik dan mendukung.
Setelah waktu yang ditentukan tiba dan warga masyarakat serta tamu-tamu undangan telah berkumpul di salah satu jalan di sudut alun-alun kota, tepat pukul sepuluh acara segera dimulai.
Acara berlangsung dengan suasana dan tatacara Belanda, tamu-tamu Binnenland Bestuur (BB) yang turut hadir dalam acara tersebut antara lain Ambtenaar (pegawai pemerintah) berkebangsaan Eropa dari Telukbetung, serta sebagian detasemen KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger/ Tentara Kerajaan Hindia Belanda).
Setelah penghormatan diberikan kepada orang yang paling dihormati pada acara itu selesai, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, disambung dengan sambutan awal oleh Mr. Bohnemann. Ia mengungkapkan terimakasihnya atas kehormatan yang diberikan untuk menyampaikan sambutan pada hari yang bersejarah bagi Residen Rookmaaker.
Bohnemann menyampaikan hal-hal yang menjadi pencapaian kerja baik Rookmaaker. Ia telah berada di wilayah tersebut hampir selama 30 tahun dan sangat mengetahui dan merasakan perubahan-perubahan atas daerah tersebut. Dan yang terpenting, waktu empat tahun selama Rookmaaker menjadi residen, sangat pesat perubahan yang terjadi, sehingga pada hari paling bersejarah itu, ia dan warganya tidak mau mengabaikan dengan begitu saja.
Setelah beberapa tokoh menyampaikan sambutannya, Mr. Bohnemann meminta kepada Kepala Pemerintahan Daerah Sukadana, Mr. Lassacquere, untuk membuka kain penutup sebuah bangunan tugu atau monumen.
Ketika tiba gilirannya, Residen Rookmaaker kemudian menyampaikan pidatonya, dalam pidatonya Rookmaaker menyampaikan rasa haru dan terima kasihnya kepada penduduk Distrik Lampung pada umumnya, terkhusus penduduk kolonisasi Sukadana (di Metro) yang telah membangun sebuah bangunan peringatan atas keberhasilan dirinya selama empat tahun bertugas.
Dalam bahasa Melayu yang fasih, residen mengucapkan salam perpisahan kepada ”loerah” bagi seluruh wilayah. Dia berterima kasih atas kerja keras mereka dalam usaha kolonisasi yang telah berhasil mengubah hutan-hutan purba menjadi sebuah metropolis.
Masih dalam rangkaian acara yang sama, acara kembali dilanjutkan di tempat berbeda, kini kegiatan dilanjutkan di bangunan pendopo Asisten Wedana Metro, tempat telah dihias sedemikian rupa.
Acara lanjutan ini merupakan acara peresmian kedua, yakni peresmian Metro yang telah dipisahkan dari induk desanya, Trimurjo yang terlebih dahulu diresmikan sebagai induk desa (Bedding 1) pada 3 April 1935.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
