Haidar Bagir dan Dee Lestari Bakal Bampil di Ubud Writers 2018

Default Avatar

Anonymous

Jakarta

16 Juli 2018 23:56 WIB
Ragam | Rilis ID
Dewi (Dee) Lestari akan tampil di UWRF 2018. FOTO: blogmizanstore
Rilis ID
Dewi (Dee) Lestari akan tampil di UWRF 2018. FOTO: blogmizanstore

Kim Scott, seorang novelis kawakan Australia yang karya pertamanya "Benang" (1999) memenangi Miles Franklin Award, hadiah sastra tertinggi di Australia, juga akan hadir dalam panel diskusi dalam UWRF 2018.

Penyair kenamaan India sekaligus novelis dan penari, Tishani Doshi, yang baru-baru ini tersorot karena responsnya terhadap masalah kekerasan terhadap perempuan di India pada Festival Hay 2018, akan hadir bersama penulis, sutradara, dan dokter asal Nigeria, Uzodinma Iweala.

Iweala juga merupakan CEO dari The Africa Centre di New York, yang mempromosikan narasi baru tentang Afrika dan diasporanya yang lebih berfokus pada sisi budaya, kebijakan, dan bisnis.

Penulis memoar dan novelis Pakistan, Fatima Bhutto akan kembali ke UWRF setelah penampilan pertamanya pada 2008. Sementara itu, fokus tentang kesetaraan dan hak eksklusif dalam dunia penerbitan akan diisi oleh penulis asal Singapura kelahiran Indonesia bernama Clarissa Goenawan yang hadir bersama Geoff Dyer, anggota Royal Society of Literature yang karya-karyanya telah diterjemahkan dalam 24 bahasa.

Ke-16 nama pembicara di atas akan membawakan karya-karya terbaiknya yang berkaitan dengan tema terpilih UWRF 2018, "Jagadhita", yang diartikan sebagai "The World We Create" (Dunia yang Kita Ciptakan).

Selama lima hari penyelenggaraan festival, UWRF mengajak para pengunjungnya untuk mempertimbangkan kembali seperti apa dunia yang telah kita ciptakan, maupun peristiwa-peristiwa di dunia yang dengan atau tanpa sengaja telah berlangsung karena kehadiran manusia.

"Kita akan bersama-sama mengurai masalah dan menemukan solusi bagi dunia yang selama ini kita tinggali," kata Founder & Director UWRF Janet DeNeefe.

Sejak digelar pertama kali sebagai usaha pemulihan atas tragedi bom Bali yang pertama, UWRF menjadi salah satu testival terbaik untuk bertukar ide, inspirasi, dan gagasan dari seluruh dunia. Para sastrawan, cendekiawan, seniman, pegiat, dan akademisi telah sama-sama saling membagi kisah dan suara hebatnya dalam festival ini.

"Berawal dari ide sederhana 15 tahun yang lalu, kami telah berkembang menjadi wadah yang cukup dikenal untuk menampilkan para penulis dan seniman, baik mereka yang masih baru atau yang sudah ternama. Festival ini telah menjadi salah satu acara sastra dan seni terkemuka di dunia," kata Janet.

UWRF, menurut Janet, menyatukan suara-suara paling berpengaruh di dunia dalam sebuah diskusi penting dan pertukaran ide yang berharga.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya