Dosen ITB Meneliti Obat Asli Indonesia untuk Penyembuhan HIV
Anonymous
Bandung
RILISID, Bandung — Azzania Fibriani, doktor yang juga dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung tengah meneliti terkait Pengembangan Sistem High Throughput untuk menyeleksi kandidat obat anti Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sumber hayati Indonesia sangat berpotensi untuk menghasilkan obat HIV.
“Ide dari penelitian kita adalah bagaimana caranya bisa menemukan obat-obatan anti-HIV dari research Indonesia sendiri,” kata Azzania seperti dikutip rilis.id dari laman itb.ac.id, Kamis (26/7/2018).
Menurut Azizania, selama ini obat terapi HIV untuk pengobatan pertama disubsidi Badan Kesehatan PBB (WHO) sehingga harganya murah. Namun, pengobatan ini perlu kedisiplinan pasien dan juga keluarganya. Kalau gagal pengobatan pertama harus megikuti pengobatan tahap kedua.
"Nah, yang kedua ini biayanya mahal karena tidak disubsidi WHO," ujarnya.
Azzania melakukan penelitian tentang sistem seleksi obat ini sudah dimulai sejak tahun 2017. Azzania dan tim sedang merancang suatu sistem untuk menyeleksi obat-obatan biodiversitas asli dari Indonesia sendiri.
"Saat ini penelitian tersebut masih dalam tahap pengembangan dan validasi," kata Azzania.
Menurut Azzania, sistem seleksi yang dikembangkan memiliki keunggulan, selain dapat menyeleksi berbagai senyawa dalam waktu yang singkat dan bersamaan, sistem ini juga tidak perlu dilakukan di laboratorium dengan tingkat keamanan yang tinggi (biosafety level 3).Sehingga sistem penapisan ini dapat dilakukan di hampir semua laboratorium molekuler di Indonesia. Hal ini tentu saja akan sangat menguntungkan untuk menyeleksi obat anti-HIV yang baru.
"Dengan sistem ini orang tidak perlu mengembangbiakkan virusnya, melalui sistem ini bisa menyeleksi obatan-obatan senyawa yang bisa menjadi kandidat untuk obat HIV. Sampai sekarang, sistem ini sedang dirancang dan sudah dalam tahap validasi. Dalam 1-2 tahun ke depan sistem ini bisa dikembangkan ke tingkat lebih lanjut lagi. Sistem ini dapat digunakan untuk mencari alternatif pengobatan untuk infeksi HIV,” ujarnya.
Lewat penelitian ini pula, Azzania mendapat penghargaan L’Oreal Fellowship For Women in Science tahun 2016 dalam bidang inovasi obat HIV. Dia berharap, setelah validasi selesai akhir tahun 2018 bisa segera melakukan seleksi kandidat senyawa untuk diuji dengan sistem tersebut.
“Validasi sudah, sampai Oktober ini sudah siap mencoba senyawa dari bahan Indonesia semua, senyawa kita dapat dari bahan alami,” ujarnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
