Baru Tayang Film Wonka kok Diboikot? Ini Penjelasan Lengkapnya
RICO ANGGARA
Jakarta
RILISID, Jakarta
— Salah satu film yang baru tayang di bioskop berjudul Wonka. Namun penayangannya yang baru dimulai pada 6 Desember 2023 ini justru mendapat seruan boikot.
Seruan boikot ini muncul pertama kali di media sosial X usai netizen ramai-ramai mengajak untuk tak menonton prekuel dari Willy Wonka & The Chocolate Factory ini.
Ternyata seruan boikot film Wonka ini karena sang bintang utamanya, Timothee Chalamet yang juga berperan sebagai Willy Wonka diduga mendukung Israel.
Belakangan diketahui seruan boikot film Wonka ini karena kekasih Kylie Jenner itu yang bermain dalam sketsa Saturday Night Live (SNL) melontarkan lelucon yang diduga mengaitkan dengan Hamas.
Timothée Chalamet yang bergabung bersama grup komedi Please Don't Destroy (PDD) itu mengisahkan sirinya yang menjadi seorang musisi namun ingin bunuh diri.
Namun personel PDD berusaha menghentikan Chalamet dan berjanji akan mendukung karier musiknya. Chalamet menolaknya karena band tersebut bernama Haymus alias Hamas.
Karena lelucon itulah muncul tudingan Chalamet mendukung Israel serta dianggap tak memiliki empati pada warga Palestina yang sudah satu bulan lebih merasakan berbagai penderitaan karena Israel.
Karena hal itulah muncul berbagai komentar netizen yang kecewa atas dugaan dukungan Chalamet tersebut. "Tadinya mau nonton tapi Timoty terangan mendukung Genosida... no thanks lainnya... masih ada banyak film bagus," ungkap salah satu Netizen di Akun Instagram @cinema.21.
Hal inilah yang membuat masyarakat Indonesia menjadi tak ingin menyaksikan film tersebut. Karena gerakan yang masif, banyak masyarakat di negara lainnya juga melakukan hal serupa.
Film ini sendiri berkisah tentang Willy Wonka yang memiliki impian membuka pabrik coklat disebuah kota yang terkenal akan coklatnya. Namun Willy Wonka yang masih muda itu sadar bahwa industri coklat dipimpin oleh kartel besar.
Film wonka
sinopsis film wonka
film wonka diboikot
Timothee Chalamet
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
