Survei LSPI: Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Saling Kejar
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Lembaga Survei Pembangunan Indonesia (LSPI), menggelar survei tingkat elektabilitas Pilpres 2019 antara capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hasilnya, saat ini terjadi kejar mengejar aliran dukungan suara antar kedua paslon tersebut.
Kepala Litbang LSPI, Febra Anugrah, mengatakan, dari hasil di 34 provinsi, pasangan Prabowo-Sandi mendapatkan dukungan dari publik sebesar 44,14 persen. Sedangkan Jokowi-Maruf berada di angka 46,86 persen.
"Sementara mereka yang belum menentukan (swing voter) tapi akan berpartisipasi dalam pilpres sekitar 9,00 persen," kata Febra dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/2/2019).
Febra mengungkapkan, hasil survei terbaru tentang tingkat keterpilihan atau elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul tipis dan saling kejar mengejar dari Prabowo-Sandi.
Menurut Febra, elektabilitas Prabowo-Sandi bertengger di angka 44,14 persen adalah dampak dari berbagai alasan yang diungkap publik, di antaranya sosok paslon nomor urut 02 itu dipandang mampu memperbaiki kondisi ekonomi saat ini.
"Publik juga sudah menginginkan sebuah perubahan dan figur presiden baru, serta memiliki karakter tegas dan berwibawa," ujarnya.
Sementara, paslon Jokowi-Ma’ruf memperoleh elektabilitas sebesar 46,86 persen karena dianggap sosok yang merakyat, sudah berpengalaman serta mampu melanjutkan pembangunan.
"Selisih antara keduanya yang sangat tipis, sekalipun tingkat kepuasan publik terhadap sosok Jokowi tinggi, namun kinerja kebijakan ekonomi rendah," ungkap dia.
Febra menilai, selisih elektabilitas yang sangat tipis itu merupakan modal awal bagi Prabowo-Sandi. Meskipun, untuk sementara Jokowi-Ma'ruf masih unggul sekitar 2,72 persen.
Menurut Febra, perbedaan tingkat elektabilitas di bawah 10 persen yang dimiliki figure incumbent dapat disimpulkan belum unggul secara signifikan dari Prabowo-Sandi.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
