Soal Aduan Money Politics, Pengamat: Integritas Ketua Bawaslu Lampung Diuji
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Tim pemenangan pasangan calon nomor urut 1 Ridho-Bachtiar dan nomor urut 2 Herman HN-Sutono telah melaporkan dugaan money politics ke Bawaslu Lampung, Rabu (27/6/2018) malam sekira pukul 23.55 WIB.
Lantas bagaimana tanggapan akademisi terkait langkah dua tim pemenangan itu? Menurut dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung (Fisip Unila) Budi Kurniawan, sikap kedua paslon sudah tepat.
Pasalnya, kata Budi, apa yang dilakukan mereka merupakan langkah terakhir untuk menuntut keadilan terkait banyaknya temuan money politics di Pilgub Lampung.
Budi menuturkan, sejumlah aduan money politics menjadi ajang uji integritas untuk ketua Bawaslu Lampung Fatikhatul Khoiriyah atau Khoir.
“Bahwa jangan sampai (Khoir) dia kan aktivitis NU, kebetulan yang menjadi Cawagub nomor 3 Nunik juga latar belakangnya orang NU. Ini juga takutnya konflik kepentingan. Tidak menafikan juga dia di Bawaslu memakai jalur dari NU,” katanya kepada rilislampung.id, Kamis (28/6/2018).
Sebaliknya, apabila Khoir mampu membawa aduan money politics itu mengarah pada tindak pidana pemilu, maka sebuah prestasi untuk lembaga yang ia pimpin yaitu Bawaslu Lampung.
“Bagi (Khoir) dia artinya dia sebagai independen. Tapi jika dia sebagai ‘pengaman’ buat Nunik. Menurut saya ini tidak akan baik terhadap proses demokrasi di Lampung,” tegasnya.
Budi menilai, desakan yang dilakukan tim pemenangan dan pendukung paslon pesaing Arinal-Nunik tidak terlalu signifikan. Melainkan juga harus didorong oleh kekuatan lainnya, seperti mahasiswa dan dosen maupun masyarakat Lampung.
Sehingga, masih menurut Budi, proses demokrasi di Pilgub Lampung tidak terciderai oleh praktik politik uang. “(Money politics) Itu sudah diketahui oleh publik selama ini. Saya juga menemukan pembagian sarung ada gambar Arinal-Nunik dan uang waktu itu juga,” tuturnya.
Budi beranggapan masyarakat tidak bisa disalahkan karena memang masyarakat disajikan oleh paslon dengan berbagai acara tidak mendidik, seperti konser dangdut, pemberian sembako dan lainnya. Hal ini mendidik masyarakat untuk berpikir dan bertindak pragmatis.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
