Prabowo 'Serang' Jokowi lewat Impor Pangan, TKN: Kritik Kebijakan Sudah Basi

Elvi R

Elvi R

Jakarta

20 Februari 2019 21:02 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILISID, Jakarta — Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Hasto Kristiyanto menyebut kritik kebijakan yang dilayangkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat debat capres kedua mengenai impor pangan sudah basi. Menurutnya, justru kritik itu memperlihatkan tim debat Prabowo dinilai gagal memberikan gagasan segar, penuh terobosan, dan gagal hadirkan kebijakan ungulan Prabowo.

"Apa yang disampaikan Prabowo tentang impor pangan, sebagai serangan ke Jokowi, praktis tidak membuahkan hasil. Sebab Prabowo tampil tanpa agenda solusi. Sementara berbagai serangan dijawab dengan pengalaman konkret Jokowi" ungkap Hasto dalam keterangan resminya, di Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Hasto menyebut, rakyat akhirnya menilai bagaimana retorika tanpa impor yang disampaikan Prabowo, tanpa alternatif solusi, menyebabkan 'serangan' itu jadi tidak berarti. Kebijakan yang ditawarkanpun jadi basi.

"Pengalaman Jokowi yang didukung tradisi blusukan di tengah rakyat, menjadi keunggulan komparatif Jokowi. Sayang sekali, retorika anti impor Prabowo justru menjadi negatif; sementara Jokowi telah menempatkan kedaulatan pangan dan energi sebagai arah kedaulatan ekonomi Indonesia" ujar Hasto.

Baginya, masyarakat pun bisa menilai, pembangunan itu perlu proses, bukan keberhasilan seketika.

"Gagasan Prabowo yang menyalahkan persoalan lingkungan karena kementrian kehutanan dan lingkungan hidup menjadi satu adalah jurus mati. Sementara Jokowi mengungkapkan keberhasilan penegakan hukum lingkungan sebagai salah satu kunci berkurangnya secara drastis kebakaran hutan," katanya.

Lebih lanjut, daya rintis Jokowi meningkatkan kualitas sungai Citarum semakin meminggirkan Prabowo di dalam mencari terobosan soal lingkungan.

"Urusan pangan, energi, lingkungan dan infrastruktur, Jokowi memang menjadi pemenang," pungkasnya.

Sebelumnya, pernyataan capres nomor urut 01 Joko Widodo mengenai penurunan impor jagung mengundang komentar dari berbagai pihak. Salah satunya dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra P.G Talattov yang menilai ada hal yang terkesan ditutupi dari salah satu pasangan calon presiden. Menurutnya, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menutupi adanya impor pangan yang dilakukan pemerintahannya. Padahal, kata Abra impor pangan cukup masif di kabiner Kerja.

"Dari Pak Jokowi saya melihat terlalu fokus dalam menceritakan keberhasilannya, tapi minim memberikan alternatif dari persoalan yang ditanyakan penantang. Bahkan, kesannya isu atau masalah disembunyikan atau dihindari. Misalkan isu pangan. Bagaimana impor pangan yang masih sangat masif, padahal janji 2014 swasembada pangan," ungkap Abra saat dihubungi rilis.id, Senin (18/2/2019).

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya