Poros Demokrat-PAN-PKB Bisa Terwujud, Ini Kata Pengamat

Sukma Alam

Sukma Alam

Jakarta

9 Maret 2018 07:13 WIB
Elektoral | Rilis ID
Ilustrasi: RILIS.ID/Fafidz Faza
Rilis ID
Ilustrasi: RILIS.ID/Fafidz Faza

RILISID, Jakarta — Pengamat politik dari Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Girindra Sandino, berpendapat wacana Partai Demokrat untuk membentuk poros baru bisa terjadi, bila Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) berkomitmen untuk berkoalisi di Pemilihan Presiden 2019 nanti.

Menurutnya, poros baru merupakan kejenuhan masyarakat yang menginginkan figur selain Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

"Ini sebuah alternatif, pemusnah kejenuhan politik. PKB dan PAN sudah menuju ke arah situ. Saya kira sudah betul arah politik PKB dan PAN membangun poros ketiga alternatif politik untuk rakyat," ujar Girindra di Jakarta, Jumat (9/3/2018).

"Saya kira poros ketiga yang digawangi Partai Demokrat merupakan hal yang wajar dalam kontestasi demokrasi kita. Walau sebagian kalangan menilai koalisi di luar kubu Jokowi dan Prabowo sulit terwujud. Namun demikian, politik itu dinamis," tambahnya.

Namun, lanjutnya, yang menjadi kendala adalah siapa yang menjadi Capres dan Cawapresnya karena harus ada figur yang menjadi magnet politik.

"Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) belum memenuhi kriteria sebagai Capres, lebih baik sebagai Cawapres," katanya.

Sementara Capres bisa dari orang luar partai, bisa mantan panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan lainnya.

"Proyeksi konfigurasi politik tersebut harus dicermati dan di antisipasi oleh kubu-kubu yang mengklaim kubunya paling kuat dalam Pilpres 2019. Pembentukkan koalisi politik tandingan yang bukan sekadar pakta politik kosong adalah pilihan strategis yang dapat dipertimbangkan," ucapnya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya