Politisi PDIP Sayangkan Pilkada Damai Dirusak Kecurigaan
Nailin In Saroh
Jakarta
RILISID, Jakarta — Ketua DPP PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari menyayangkan segelintir pihak yang merusak suasana dengan kecurigaan terkait hasil perolehan suara Pilkada Serentak 2018. Padahal, gelaran pesta demokrasi lalu telah berjalan aman, lancar dan damai.
"Masyarakat sudah dewasa, hanya elite tertentu yang gemar menggerutu membuat suasana damai demokratis dirusak oleh kecurigaan," ujar Eva di Jakarta, Jumat (29/6/2018).
Eva mengklaim, tertibnya pilkada tahun ini menunjukkan Presiden Jokowi telah sukses menjaga amanah rakyat. PDI Perjuangan pun, kata dia, berhasil mengikuti konstestasi yang beradab dengan tidak menghalalkan segala cara seperti cara-cara sebelum 2014.
Menyinggung soal menghalalkan segala cara pada 2014, Eva enggan menuturkan lebih jauh. Eva justru melanjutkan tentang hasil Pilkada Serentak 2018.
Menurut dia, hasil pilkada harus dilihat secara utuh. Bukan hanya pemilihan di 17 provinsi, tapi juga pemilihan ratusan bupati dan walikota. Pasalnya, dalam sistem otonomi daerah, ia menyebutkan posisi walikota dan bupati sangatlah strategis, karena memegang wilayah. Sementara Gubernur sifatnya koordinatif.
"Bagi PDI Perjuangan, hasil Pilkada di tingkat kabupaten/kota dan provinsi adalah kemenangan dan kisah sukses dari komitmen kaderisasi Partai. Dalam konteks itu, kami berhasil melawan pragmatisme mengambil sembarang tokoh yang tidak jelas asal usul ideologi dan komitmennya, dan PDI Perjuangan kukuh mengajukan kader untuk maju Pilkada," jelas Anggota Komisi XI DPR itu.
Eva menuturkan, jika untuk sekedar menang kalah, tentu PDI Perjuangan akan mengusung figur yang elektabilitasnya paling tinggi, tidak harus memperhatikan apakah itu kader atau bukan, dan bagaimana komitmen ideologinya.
"Tetapi sebagai partai ideologis, PDI Perjuangan sangat memperhatikan bagaimana aspek kepemimpinan ke depannya setelah terpilih menjadi kepala daerah," tandasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
