Paslon Pilkada 2018 Ini Jadi Korban Politik SARA 

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

29 Juni 2018 15:00 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILISID, Jakarta — Direktur Riset Setara Institute, Halili, mengatakan, politisasi di Pilkada Serentak 2018 relatif lebih kecil dibandingkan Pilkada 2017. 

Hanya saja, kata dia, masih ada sejumlah daerah yang bermain politik suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) untuk memenangkan pasangan calon tertentu. 

Halili menyebut, sejumlah daerah itu di antaranya adalah di Pemilihan Gubernur Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Di Pilgub Sumut, menurutnya, yang paling banyak bila dibandingkan ketiga provinsi di Pulau Jawa tersebut. 

"Pada Pilgub Sumut, pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) menjadi korban tiga belas bentuk kampanye bermuatan politisasi SARA dengan banyak isu. Mulai dari soal Djarot bukan putra daerah dan keislamannya diragukan," kata Halili, melalui siaran persnya kepada rilis.id, Jumat (29/6/2018). 

Selain soal putra daerah dan agama, imbuh Halili, Djarot juga diserang kampanye hitam soal larangan memilih pendukung penista agama yang merujuk kepada Basuki Tjahaja Purnama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. 
Selain itu juga terkait larangan memilih pemimpin non-muslim, politisasi masjid, hingga ‘tamasya Al-Maidah’ pada hari pencoblosan.

"Sedangkan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah (Eramas) menjadi kampanye bermuatan politisasi SARA yaitu kampanye hitam kupon zakat palsu," ujarnya. 

Halili menilai, politisasi SARA khususnya agama cukup efektif filakukan di Sumut berdasarkan sebaran suara dalam hitung cepat beberapa lembaga survei. 
Pasangan Eramas, ungkap dia, mendominasi suara hingga di atas 85 persen di kabupaten-kabupaten dengan penduduk mayoritas beragama Islam. 

"Seperti Kabupaten Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Labuhan Batu, Asahan, Labuhan Batu Selatan, Labuhan Batu Utara, Kota Tanjung Balai, Padang Sidimpuan, dan sebagainya," ungkap Halili. 

Dalam Pilgub Jawa Barat, jelas Halili, paslon Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) dan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi menjadi korban paling banyak politisasi SARA. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Unknown
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya