Mau Tahu Siapa Capresnya, Besok PAN Beri Sinyal
Anonymous
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Partai Amanat Nasional (PAN) terus ’berselancar’ di sela hingar-bingar koalisi pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Alih-alih lewat rapat kerja nasional (Rakernas), keberpihakan itu akan terjawab pekan depan. Tapi, ada fakta lain, bisa tergambar dengan rekomendasi yang dilahirkan secara prematur, besok (3/8/2018).
Ya, tak perlu harus menunggu sampai pekan depan sebenarnya. Sebab dari masing-masing DPW seluruh Indonesia, sudah bisa tergambar siapa yang bakal diusung oleh partai yang digawangi Zulkifli Hasan tersebut.
Apakah pilihan itu akan jatuh pada Joko Widodo? jelas tanda itu sudah kentara. Karena PAN bagian dalam kabinet kerja pemerintahan Jokowi-JK. Sementara untuk ke arah Prabowo, itu pun tak terbantahkan. Terlebih, PAN sejak Pilpres 2014 begitu militan dalam mendukung majunya Prabowo sebagai capres.
Setelah Hatta Rajasa, ada Zulkifli Hasan, sang Ketua Umum PAN yang dijagokan bisa mendampingi Ketua Umum Gerindra itu. Nah, soal kemungkinan-kemungkinan itu, Sekretaris DPW PAN Lampung Iswan H. Caya tidak membantahnya.
”DPW PAN Lampung akan ambil bagian dalam memutuskan arah koalisi Pilpres. Besok pukul 14.00 ada rapat pleno diperluas di DPW PAN Lampung,” sebut Iswan lewat pesan Whatsapp yang diterima Rilislampung.id, Kamis (2/8/2018).
Rapat pleno diperluas, sambung dia, melibatkan 15 DPD Kabupaten/Kota. Pembahasan tentu akan terasa ketat. Ada banyak pertimbangan yang akan dibahas dalam meja rapat.
”Untuk sikap partai secara nasional, memang diputuskan antara 6-7 Agustus mendatang. Keputusan itu, menjadi keputusan resmi yang ditetapkan dalam Rakernas,” urainya.
Namun, sambung Iswan, sejauh ini hanya dua pilihan yang begitu dekat dengan PAN, yakni Joko Widodo atau Prabowo.
”Ya, kecendrungannya hanya dua itu,” tegasnya.
Seperti diketahui, kehadiran Partai Demokrat dalam koalisi pendukung Prabowo Subianto sepertinya membuat goyah anggota koalisi yang lain. Termasuk PAN, yang kini berupaya membuka poros ketiga.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
