Jika SBY Gabung dengan Prabowo, Pilpres Bakal Sulit Diprediksi

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

28 Juli 2018 23:05 WIB
Elektoral | Rilis ID
Pertemuan Ketum Demokrat SBY dan Ketum Gerindra Prabowo di Jakarta. FOTO: Istimewa.
Rilis ID
Pertemuan Ketum Demokrat SBY dan Ketum Gerindra Prabowo di Jakarta. FOTO: Istimewa.

RILISID, Jakarta — Peneliti dari Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia (Formasi), Muhammad Taufik Rahman, menganggap wajar bila selama ini masih banyak pihak yang memprediksi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan dikalahkan lagi oleh Joko Widodo di Pilpres 2019. 

Apalagi, kata Taufik, Jokowi selama menjabat sebagai presiden banyak mendatangi daerah-daerah yang pada Pilpres 2014 menjadi basis suara Prabowo. 

"Dengan popularitas dan elektabilitas petahana yang cukup tinggi, wajar banyak yang pesimis Prabowo bisa kalahkan Jokowi," kata Taufik kepada rilis.id, Sabtu (28/7/2018).

Manuver politik Prabowo, ungkap Taufik, juga selama ini mudah dibaca Jokowi, dan sejumlah partai politik pendukungnya. Ditambah, koalisi partai pendukung Prabowo kemungkinannya akan lebih kecil ketimbang saat Pilpres 2014 yang lalu.

"Tapi, jika SBY (Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono) yang selama ini sulit dibaca pergerakannya memastikan ikut gerbang Prabowo, akan ada permainan politik yang sangat ketat," ujarnya.

Meski begitu, imbuh Taufik, kemenangan Jokowi di Pilpres 2014 yang lalu juga dipengaruhi keberadaan Jusuf Kalla (JK) sebagai cawapresnya. Pasalnya, Kalla memiliki basis massa solid yang ditopang dengan kekuatan ekonomi. 

"Jadi, kekuatan Jokowi ini tidak hanya ada di Jokowi saja. Tapi juga basis massa pendukung JK. Dengan selisih raihan suara yang cuma 6 persen dari Prabowo, kemungkinan hilangnya faktor JK masih sulit diprediksi. Kita belum tahu ke mana arah pilihan pendukung JK besok," paparnya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Unknown
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya