Ini Keuntungan Jokowi kalau Moeldoko Cawapres
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Peneliti Senior Lingkar Survei Indonesia, Adjie Alfarabi menilai, kandidat kuat cawapres Jokowi adalah Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko. Alasannya, karena minim resistensi dari parpol koalisi.
"Moeldoko yang berlatar belakang militer, dan pernah menduduki jabatan panglima TNI, adalah representasi profesional," kata Adjie Alfarabi ketika dihubungi wartawan di Jakarta, baru-baru ini.
Hal inilah yang dinilai rendahnya resistensi parpol koalisi di pemerintahan bila Jokowi mengangkat Moeldoko sebagai cawapresnya untuk 2019.
Seperti diketahui, dalam hasil survei LSI pada Selasa, 10 Juli lalu, Moeldoko masuk sebagai kandidat cawapres yang sudah dikantungi Jokowi. Nama lainnya, Airlangga Hartarto, Mahfud MD, Sri Mulyani dan Tito Karnavian.
Terlepas dari persaingan itu, menurutnya, kelebihan lain Moeldoko adalah punya kedekatan dengan Jokowi. Buktinya, kini ia dipercaya menduduki jabatan KSP, yang dulunya diemban Teten Masduki.
"Lalu, jika dipilih sebagai cawapres, Moeldoko dapat mengimbangi kompetitor Jokowi, yakni Prabowo Subianto pada pemilu presiden 2019," katanya.
Prabowo adalah mantan petinggi militer yang pernah menduduki jabatan sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Selain Prabowo, kompetitor Jokowi lainnya adalah Gatot Nurmantyo. Ia merupakan junior Moeldoko yang menggantikan posisinya sebagai Panglima TNI pasca-pensiunnya Moeldoko.
Secara terpisah, pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin menilai, suara pemilih yang menyukai figur militer diharapkan tidak terkonsolidasi ke kubu Prabowo atau Gatot Nurmantyo.
"Tetapi dapat terbagi ke kubu petahana, jika Moeldoko yang menjadi cawapres Jokowi," kata Said.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
