Gerakan #2019GantiPresiden Dinilai Bukan Lagi Sebuah Ancaman

Default Avatar

Anonymous

Kupang

1 September 2018 16:15 WIB
Elektoral | Rilis ID
Kaos bertuliskan 2019 ganti Presiden. FOTO: Istimewa.
Rilis ID
Kaos bertuliskan 2019 ganti Presiden. FOTO: Istimewa.

RILISID, Kupang — Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Ahmad Atang menilai, aksi 2019 Ganti Presiden tak perlu lagi dirisaukan. Karena, menurut dia, gerakan tersebut tak memiliki kekuatan pendobrak.

"Isunya sudah tidak terpola dan gerakan ini sudah kehilangan tokohnya," kata Ahmad di Kupang pada Sabtu (1/9/2018).

Dia mengemukakan hal itu, terkait maraknya aksi kampanye seputar ganti presiden 2019, dan dampaknya terhadap konstelasi politik pada pilpres nanti.

Meski bisa dibilang tak memiliki tokoh, namun Prabowo Subianto masih merasa bahwa dirinyalah yang akan tampil sebagai simbol politik Islam.

"Padahal, simbol politik yang diinginkan itjimak ulama sesungguhnya adalah figur yang harus berlatar belakang santri, bukan nasionalis seperti Prabowo," tambah Ahmad.

Di sini Prabowo dan Gerindra terjebak oleh asumsinya sendiri, karena hingga saat ini belum ada sikap resmi kelompok alumni 212 untuk mendukung Prabowo.

Boleh jadi kata dia, pernyataan Yusril Ihza Mahendra benar bahwa kekuatan politik Islam akan mendukung Joko Widodo pada Pilpres mendatang, karena calon wapresnya adalah seorang ulama.

Dia menambahkan, gerakan ganti presiden sesungguhnya merupakan agenda kekuatan politik aliran, yang dimotori oleh para habib dan kelompok garis keras sejak Pilkada DKI, dan mendapatkan dukungansecara politik oleh PKS dan Gerindra.

"Harapan PKS dan Gerindra adalah agar kekuatan politik aliran ini harus dimobilisir untuk kepentingan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019," ungkap dia.

Namun, dalam perjalanan, PKS dan Gerindra yang menjadi motor penggerak, ternyata memiliki agenda berbeda-berbeda.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya