Pengakuan Pratama Wijaya Saat Ikut Diksar Unila: Saya Ditendang dan Diinjak-Injak
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Ibunda almarhum Pratama Wijaya Kusuma, Wirna Wani, mengungkapkan bahwa sebelumnya ia bersikeras melarang sang anak mengikuti kegiatan Diksar Mahepel FEB Unila.
Awalnya, Pratama meminta izin untuk mengikuti kegiatan tersebut. Namun, sang ibu menanyakan lebih lanjut tentang organisasi dan tujuan kegiatan itu.
“Dia bilang mau ikut kegiatan naik gunung bersama Mahepel. Saya tanya, ‘Apa itu?’ Dia bilang naik gunung. Saya bilang, ‘Jangan, jangan ikut. Nanti kamu capek. Mama nggak mau kamu capek,’” kata Wirna mengenang percakapannya dengan almarhum kepada awak media di Polda Lampung, Selasa (3/6/2025).
Pratama terus meyakinkan ibunya, tetapi Wirna tetap tidak mengizinkan anaknya mengikuti pendidikan dasar Mahasiswa Ekonomi Pecinta Lingkungan (Mahepel) Unila itu.
Karena tidak diberi izin, Pratama sempat ngambek dan meminta agar dirinya tidak ‘dikekang’ karena merasa sudah dewasa.
“Dia bilang, ‘Nggak, Ma. Nanti rame-rame sama teman-teman.’ Sempat saya nggak ngasih izin, dia ngambek pengen ikut. Katanya, dia udah gede, jangan dikekang terus,” ujarnya.
“Apa boleh buat, saya kasih izin. Daripada anak saya benci sama saya, ya sudah, Nak,” tambahnya.
Wirna kemudian kembali menanyakan apa saja kegiatan yang akan dijalani selama Diksar Mahepel.
Pratama menjawab, “Kata teman itu, Ma, nanti di gunung kita foto-foto, lihat pemandangan, pakai tenda, makan bareng-bareng. Yang saya pikir ya bagus kalau bareng-bareng, ya sudah saya izinkan jadinya,” bebernya.
Namun, kenyataan jauh dari harapan. Dalam kegiatan tersebut, Pratama Wijaya Kusuma mengaku mengalami kekerasan dan penganiayaan dari para seniornya dengan dalih melatih fisik dan mental.
Pratama Wijaya Kusuma
kasus kekerasan
penganiayaan
ormawa
Unila
mahasiswa Unila
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
