Pengakuan Pratama Wijaya Saat Ikut Diksar Unila: Saya Ditendang dan Diinjak-Injak
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Diksar itu berlangsung pada 10–14 November 2024 di kaki Gunung Betung, Desa Talang Mulya, Kabupaten Pesawaran.
Almarhum mengaku selama mengikuti Diksar ditendang dan diinjak-injak di bagian perut dan dada oleh para senior, dengan alasan untuk melatih fisik dan mental.
“Saya ditendang di dada, ditendang di perut. Diinjak-injak. Tapi saya mau ngadu nggak boleh, nyawa saya diancam,” ujarnya menirukan perkataan Pratama.
Wirna mengaku tidak terima setelah mengetahui anaknya dianiaya habis-habisan dengan dalih kegiatan organisasi.
Ia pun meminta agar Pratama melawan jika ada perbuatan para senior yang sudah kelewat batas.
“Sebenarnya saya nggak terima dibilang latihan fisik, tapi ditendang perut, ditendang dada. Sampai saya nangis. Saya bilang, ‘Lawan, Nak, kalau mereka macam-macam,’” kata Wirna.
“Ramai lho, Ma (jumlah pelakunya). Ada yang tua, sampai umur 40-an juga ikut,” jawab almarhum kala itu.
Setelah pulang, Pratama harus dirawat di rumah sakit karena adanya penggumpalan darah di bagian kepala hingga tangannya mengalami kram, dan ia harus menjalani operasi. Pratama juga mengalami luka-luka dan kejang otot.
Namun takdir berkata lain. Pratama, yang merupakan anak pertama di keluarganya, menghembuskan napas terakhir pada 28 April 2025 setelah menjalani perawatan dan operasi di RSUD Abdul Moeloek.
“Diagnosa dokter katanya ada penggumpalan darah di kepala, terus cairan di kepalanya nggak lancar, makanya tangannya kram. Makanya buru-buru harus dioperasi,” ujarnya.
Pratama Wijaya Kusuma
kasus kekerasan
penganiayaan
ormawa
Unila
mahasiswa Unila
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
