Surutnya Danau Asam di Suoh Lambar, Faktor Alam atau Kepentingan Lahan?
Arya Besari
Lampung Barat
Sejumlah petak sawah dilaporkan rusak diterjang banjir.
“Kami sampai unggah video ke Facebook karena bingung mau lapor ke siapa. Sawah kami jebol karena aliran air tidak terkendali. Airnya campur dari aliran yang dibuka itu,” kata seorang petani yang sawahnya terdampak.
Jika benar air dialirkan untuk mengeringkan lahan rawa, pertanyaan mendasar pun muncul, apakah telah dilakukan kajian lingkungan secara menyeluruh?
Untuk kepentingan siapa lahan tersebut dipersiapkan? Apakah ada izin resmi atas aktivitas penggalian dan pembukaan lahan itu?
Secara ekologis, perubahan debit air danau vulkanik berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem, mulai dari vegetasi air, biota, hingga kualitas tanah di sekitarnya. Intervensi tanpa kajian matang bisa berdampak jangka panjang.
Dari sisi ekonomi, danau menjadi tumpuan hidup pedagang, pemandu wisata, hingga pelaku usaha kecil.
Surutnya air berpotensi mengurangi daya tarik wisata dan berdampak langsung pada pendapatan warga.
Hingga laporan dan penelusuran ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pemerintah kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten Lambar terkait detail proyek revitalisasi serta dampaknya terhadap kondisi Danau Asam. Upaya konfirmasi masih dilakukan.
Bagi masyarakat Suoh, surutnya Danau Asam bukan sekadar persoalan garis air yang mundur. Ini menyangkut kelestarian lingkungan, masa depan pariwisata, dan transparansi tata kelola ruang.
Jika benar terdapat kepentingan lahan di balik penyusutan ini, yang dipertaruhkan bukan hanya keberadaan danau, melainkan juga kepercayaan publik terhadap arah pembangunan daerah. (*)
DanauAsam
Suoh
LampungBarat
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
