Ekonomi Lampung Agustus 2025 Alami Deflasi 1,47 Persen
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat, pada Agustus 2025 perekonomian Lampung mengalami deflasi sebesar 1,47 persen secara month to month (m-t-m).
Deflasi tertinggi di Sumatera terjadi di Kota Bandar Lampung dengan angka 1,81 persen. Sementara itu, Indeks Perkembangan Harga (IPH) M4 Lampung pada Agustus tercatat -0,43 persen. Komoditas penyumbang utama deflasi berasal dari cabai merah, bawang merah, dan beras.
Secara year on year (y-o-y), inflasi Lampung berada di angka 1,05 persen. Angka ini menjadi yang terendah di Pulau Sumatera dan menempatkan Lampung dalam Kuadran III sebaran inflasi nasional, yaitu kategori inflasi rendah dan menurun dibanding bulan sebelumnya.
Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Lampung, Rinvayanti, menegaskan deflasi tidak bisa hanya dilihat dari angka semata, tetapi perlu diperhatikan faktor penyebabnya.
“Deflasi harus kita lihat penyebabnya. Kalau kita lihat, faktor utamanya biaya pendidikan SMA-SMP, bawang putih, dan cabai rawit,” ujar Rinvayanti saat ditemui di Kantor Gubernur Lampung, Selasa, 2 September 2025.
Ia menambahkan, jika beras dan bawang merah yang menjadi penyumbang deflasi, justru hal itu berpotensi memicu inflasi ke depan.
“Kita akan terus memonitor beras. Saat ini penyaluran beras cukup masif sehingga harga tidak terlalu tinggi. Kalau nanti ada daerah yang harga berasnya melonjak, kita akan segera menggelar pasar murah. Tapi kalau kondisinya masih stabil, tidak kita keluarkan dulu,” jelasnya. (*)
Ekonomi Lampung
deflasi
pembayaran biaya pendidikan
bawang putih
cabai
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
