Mbah Wasiman Lansia Gigih di Lambar, Rawat Anak Disabilitas Hanya Andalkan Ternak Orang Lain Demi Bertahan Hidup
Anton Suryadi
Lampung Barat
Hal unik dari sang anak, menurut Mbah Wasiman hanya mau makan saat adzan berkumandang yakni Zuhur, Asar, dan Magrib.
"Sudah kami bawa ke dokter, ke dukun juga. Tapi tetap begitu. Ya sudah, kami terima saja, mungkin memang sudah takdir dari Allah," ucapnya pasrah.
Di tengah keterbatasan ini, Mbah Wasiman dan Mbah Suratmi tak meminta banyak.
Mereka hanya ingin kakak mereka yang janda bisa mendapatkan bantuan sosial baik PKH, BPNT, ataupun BPJS.
"Kakak saya enggak punya siapa-siapa. Anak enggak ada, keluarga cuma kami. Kalau dia enggak dapat bantuan, terus siapa yang mau peduli? Kami juga sudah tua," ujarnya.
Pasangan ini adalah potret nyata dari rakyat kecil yang tetap tegar dan bersyukur di tengah keterbatasan.
Sebuah kisah tentang ketabahan, kerja keras, dan harapan yang tak kunjung padam bahkan ketika hidup tak memberikan banyak pilihan. (*)
Lambar
Lansia
Bansos
rawat anak
disabilitas
pelataran Pemkab Lambar
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
