Bangkitkan Kejayaan Kakao dan Lada Hitam Lampung, Harno Irawan Buka Jalan Ekspor ke Pasar Dunia
Paggy Fajar Dian Pratama
Pesawaran
RILISID, Pesawaran — Inisiasi yang digagas anggota DPRD Pesawaran Harno Irawan bersama PT. Klumbayan Gold Farm (KGF) dengan menggandeng Badan Riset asal Prancis untuk melakukan pendampingan bagi para petani kakao dan lada hitam di Desa Sinar Harapan, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran untuk menembus pasar internasional.
Pendampingan bertujuan untuk memberikan gambaran nyata tentang bagaimana program pendampingan teknis di lapangan dapat membantu petani meningkatkan kualitas dan produktivitas produk mereka hingga memenuhi standar ekspor global.
"Benar, kami kedatangan tamu Mr.Cristian dan Mr.Bravin dari Prancis. Menurut pandangan mereka potensi komoditas kakao dan lada di Indonesia khususnya di Kabupaten Pesawaran tidak kalah dengan hasil perkebunan di Eropa," ujar Harno Irawan, Selasa (19/5/2026).
Menurut Sekretaris DPC PDI-Perjuangan Kabupaten Pesawaran, potensi perkebunan kakao dan lada hitam di Pesawaran juga bisa mencapai hasil produksi yang maksimal dengan kualitas premium, mengingat Provinsi Lampung pernah bertengger di posisi ke-4 produksi kakao dan lada hitam terbesar nasional.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk mengembalikan kejayaan komoditas lada hitam dan kakao Lampung khususnya di Kabupaten Pesawaran, sekaligus menjawab tantangan penurunan produktivitas akibat hama, penuaan tanaman, dan perubahan iklim.
"Lada hitam Lampung memiliki keunggulan dengan ciri khas wangi yang dihasilkan berbeda dengan lada di wilayah lain, maka harapan besar kami para petani bisa mengembalikan kejayaan kakao dan lada hitam lampung dengan hilirisasi berbudidaya tanaman lada dan kakao," tambahnya.
Ia juga menjelaskan, hasil diskusi dengan Badan Riset asal Prancis untuk pengelolaan kakao sesuai dengan standar ekspor adalah dengan melakukan fermentasi untuk menambah nilai jual komoditas di tingkat petani secara signifikan dibanding menjual dalam bentuk basah atau asalan.
"Penjualan hasil dengan cara konvensional itu hanya mencapai harga pasar Rp40 ribu perkilogram, sedangkan ketika sudah difermentasi harga pasar kakao bisa mencapai kurang lebih Rp100 ribu," ujarnya.
Oleh sebab itu, Harno menegaskan perlu adanya kolaborasi multisektor terutama dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran untuk memfasilitasi dengan memberikan pendampingan dan kepastian serapan pasar dengan harga yang adil bagi petani yang telah menerapkan praktik budidaya berkelanjutan.
"Harapan kami pemerintah daerah harus peka terhadap perekonomian masyarakat, kami akan mendorong inovasi-inovasi ini segera diterapkan terutama pengelolaan hasil panen, agar perkebunan kita bisa go internasional dengan standar kualitas premium yang siap diserap oleh pasar ekspor," tandasnya. (*)
Pesawaran
PT Klumbayan Gold Farm
Harno Irawan
DPRD Pesawaran
Kakao
Lada Hitam
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
