Andalkan Kiriman Anak di Perantauan dan Buruh Serabutan, Begini Nasib Mbah Slamet Pasca Operasi Kanker
Agus Pamintaher
Lampung Selatan
RILISID, Lampung Selatan — Menahan rasa sakit pasca operasi penyakit kanker yang dideritanya dua tahun silam, Slamet Jemi (73) warga Dusun Rejosari l, Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), kini hanya bisa terbaring lemah
Saat ini, ia hidup bersama Istrinya Poniyem (68) dan cucunya yang masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD) dengan kondisi rumah yang benar-benar tidak layak untuk ditempati.
Dengan dapur serta kamar tidur menjadi satu di rumah yang terbuat dari geribik bambu berukuran 5x8 meter, apabila hujan turun mengalami kebocoran.
Mirisnya lagi, program dari pemerintah untuk meringankan bebannya tak pernah ia rasakan sama sekali.
Bahkan, perasaan iri terkadang ia rasakan saat melihat tetangga-tetangganya mendapatkan bantuan dari desa maupun pemerintah pusat.
Poniyem mengaku, meski suaminya terbaring sakit, tetapi tetap bekerja untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya apabila ada orang yang membutuhkan tenaganya.
Selain mengandalkan kiriman dari anaknya yang merantau ke Rawa Jitu, tetangga yang peduli juga terkadang memberikan bantuan ala kadarnya.
"Kalau ada yang nyuruh kerja ya berangkat, biarpun sakit," kata Mbah Sipon panggilan sehari-hari Poniyem, Rabu (6/8/2025).
Bidan Desa setempat Fitri saat mengunjungi pria yang akrab disapa Mbah Slamet, melihatnya sedang tidur tanpa mengenakan baju beralaskan tikar di lantai tanah.
Fitri mengaku, sudah lima hari ini ia selalu mendatangi rumah Mbah Slamet yang seharusnya mendapat perawatan di Rumah Sakit.
Mbah Slamet
pasca operasi kanker
bantuan
buruh serabutan
Lampung Selatan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
