Setelah Kena Gusur, 37 KK Hidup di Antara Puing-Puing
Anonymous
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Nasib warga Kampung Pasar Griya terkatung-katung pasca-penggusuran yang dilakukan Pemerintah Kota Bandarlampung. Sebanyak 37 kepala keluarga (KK) memilih bertahan dan tinggal di antara puing-puing bangunan.
Pantauan rilislampung.id di lapangan, berdiri beberapa tenda ala kadarnya yang terbuat dari terpal usang. Kardus-kardus bekas dihamparkan sebagai alas tenda.
Musala yang menjadi tempat ibadah berubah menjadi penampungan sementara para ibu, anak-anak, hingga mereka yang lanjut usia (lansia). Sekadar berlindung dari terik matahari dan dinginnya hujan.
Dapur umum hanya memanfaatkan dua buah kompor gas milik warga. Masyarakat dibantu para mahasiswa bergotong-royong mencari barang yang masih bisa dimanfaatkan di balik reruntuhan akibat eksavator.
Benny (20), salah satu warga mengaku bingung akan pindah ke mana pasca-penggusuran. Tanah tersebut menjadi satu-satunya tempat ia dan warga lainnya berlindung dari kerasnya kehidupan.
"Bingung mau pindah kemana. Ya kalau malam tidur di sini. Kami nggak punya tempat lagi selain di sini," kata Benny, Rabu (25/7/2018).
Nasib serupa dialami Hasan. Ia berharap pemkot masih berbaik hati membiarkan warga untuk sementara waktu tinggal di tempat penggusuran.
"Kami minta dihentikan sementara waktu proses pembangunannya. Kami mau mencari sisa-sisa barang di sini, siapa tahu bisa dijual untuk makan kami selama beberapa hari ke depan," terangnya.
Hasan mengaku, dirinya hanya memanfaatkan terpal bekas untuk tidur.
"Rasanya ya kayak tidur di Pantai Selatan tempatnya Nyi Roro Kidul, banyak anginnya," gurau Hasan. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
