Ratna Sarumpaet Dinilai Lagi Memainkan Skenario untuk Prabowo-Sandiaga
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Peneliti Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia (Formasi), Muhammad Taufik Rahman menilai, berbagai ulah kontoversial Ratna Sarumpaet merupakan sebuah sknario.
"Skenario yang memang diperankan oleh Ratna untuk kepentingan calon presiden Prabowo Subianto," kata Taufik kepada rilis.id pada Rabu (3/10/2018).
Mulai dari kritik-kritik kerasnya kritik kepada pemerintahan Joko Widodo, adu mulut dengan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat pencarian KM Sinar Bangun di Danau Toba hingga dugaan penganiayaan terhadap dirinya yang viral baru-baru ini.
Menurut Taufik, aktor partai politik selalu saja tampil bermuka dua. Satu sisi berpenampilan baik dan simpatik, sementara sisi lainnya menampilkan wajah kritis dan sinis.
Ratna, kata Taufik, sedang menjalankan tugasnya untuk menampilkan wajah kritis dan sinis, atau bahasa lainnya berperan antagonis.
"Fenomena ini mulai kita kenal sejak era Partai Demokrat berkuasa. SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berperan menampilkan wajah yang baik dan simpatik, kader yang lain seperti Ruhut dan Roy Suryo menampilkan sisi kritis dan sinis," ujar Taufik.
Model komunikasi politik bermuka dua itu terus dijalankan oleh para aktor politik sepanjang 2014-2019. Misal, Ratna dan Ahmad Dhani, ujar dia, kebagian jatah dari tim Prabowo untuk memainkan peran kritis dan sinis tersebut.
"Mereka kelihatan sekali diposisikan sebagai 'gelandang serang' timses Prabowo. Mereka melakukan tugas-tugas yang keras dan frontal untuk menjaga image Prabowo," ujarnya.
Untuk mengejar popularitas, ungkap Taufik, para tokoh politik kerap berwajah santun dan memelas. Namun, di sisi lain, ada yang menjalankan peran untuk menghantam dan membongkar kedok lawan politiknya melalui kader dan simpatisannya.
"Kasus Andi Arief dan Jenderal Kardus merupakan contoh paling dekat. Tidak mungkin kan SBY yang melemparkan tuduhan Jenderal Kardus? Reputasinya akan hancur," ungkap Taufik.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
