PPTKG Ajak Masyarakat Tenang Hadapi Aktivitas Merapi
Anonymous
Yogyakarta
Pola Merapi setelah letusan 2010, ujarnya, menyerupai letusan Tahun 1872 dan 1930.
"Di antara letusan besar ada letusan kecil, yaitu freatik. Pola dulu sesuai dengan pola sekarang. Merapi masih sesuai dengan polanya. Bentuknya letusan freatik juga sama. Merapi masih on the track, dulu juga ada freatik," katanya.
Ia mengatakan, perkembangan kondisi Gunung Merapi terkait dengan status waspada saat ini, belum muncul kubah lava baru.
Ia mengatakan pijar merah saat letusan freatik belum lama ini sebagai manifestasi gas dengan suhu tinggi.
"Kalau pijar merah itu sebagai awal munculnya kubah baru, akan lama waktu pijarnya, tetapi yang kemarin itu hanya sekilas habis pijarnya, itu manifestasi gas dengan suhu tinggi," katanya.
Ia menyebut, jarak letusan freatik hingga muncul kubah lava bisa saja terjadi dalam waktu yang lama sehingga status Merapi bisa saja diturunkan menjadi normal.
Dalam menghadapi perkembangan letusan freatik Merapi, katanya, masyarakat tidak perlu panik. Kalau mereka panik dan merasa harus mengungsi, bisa dilakukan ke desa yang lebih bawah.
Ia juga mengemukakan pentingnya berbagai persiapan untuk penanggulangan bencana Merapi, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
"Jika aktivitas terus, terjadi pertumbuhan kubah dari waktu ke waktu, bisa harian, bisa bulanan. Kalau kubah lava tidak stabil bisa longsor menghasilkan awan panas," katanya.
Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Pemkab Magelang, Endra Wacana mengatakan, sosialisasi perkembangan aktivitas Merapi itu kerja sama pengelola Perpustakaan Desa Ngablak dan BPPTKG Yogyakarta dengan nama kegiatan "Suluh Pustaka Siaga Bencana".
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
