Mengeluhkan Pasokan Jagung Nasional
Anonymous
Jakarta
"Tidak dengan varibale lainnya. Misal, soal produksi panen yang tercecer saat proses distribusi atau pengangkutan dan produksi panen yang tidak memenuhi standar atau busuk," ujar dia.
Ya, memang harus begitu idealnya. Mulai dari jagung yang busuk, jagung yang tercecer saat distribusi, variabel eksternal seperti cuaca, sistem irigasi, sampai serangan hama.
Kalau data Kementerian Pertanian, jumlah produksi jagung terus naik. Terhitung dari 2013 - 2017. Mulai dari angka 18,5 juta ton, naik ke 19 juta ton, kemudian terakhir mencapai 20 juta ton.
Tapi, konsumsinya kan juga bertambah. Pada 2013 itu mencapai 22,1 juta ton. Naik lagi jadi 22,5 juta ton. Lalu, 23,3 juta ton. Pada 2016 turun jadi 22,1 juta ton. Dan, naik lagi 23,3 juta ton.
Kementan punya kesimpulan berbeda. Dirjen Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto menyebut, produksi jagung sebenarnya mencukupi. Ini berdasarkan Angka Ramalan (Aram) I mencapai 28 juta ton.
"Surplus empat juta ton," kata Gatot kepada wartawan di Gedung Kementan, belum lama ini.
Bisa sampai surplus karena adanya Luas Tambah Tanam (LTT) seluas 945 hekatre periode Oktober 2017 - Agustus 2018. Di tahun ini ada tambahan 2,8 juta hekatre, tujuh hektare lahan yang sudah ada.
Naiknya harga jagung, kata dia, bisa jadi karena petani yang memang mengatrol sendiri harga. Tapi, kalau cuma naik sekitar Rp1.000 ini masih wajar. Justru ini moment petani dapat untung.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
