Mengeluhkan Pasokan Jagung Nasional

Default Avatar

Anonymous

Jakarta

27 September 2018 13:25 WIB
Nasional | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

RILISID, Jakarta — BOLEH kok ekspor ke luar negeri, asal kebutuhan dalam negeri sudah tercukupi. Kecuali, tak lagi bikin peternak "menjerit". Mereka mengeluh. Harga jagung industri untuk pakan makin tinggi. 

Biasanya, rata-rata harganya hanya berkisar di angka Rp4.000an per kilogram. Sekarang jadi Rp5.200. Ini menjadi indikator bahwa suplai nasional sebetulnya masih kurang.

"Tapi, pemerintah malah membatasi impor, tanpa melihat pasokannya," kata kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Imelda Freddy, seperti dilansir Antara, kemarin.

Cukup apa enggak untuk kebutuhan sendiri. Itu dulu lah yang harus dipikirkan Kementerian Pertanian. Bukannya asal klaim kalau produksi jagung surplus. Lalu, melakukan ekspor. 

Hal yang begini lah kemudian berdampak kepada para produsen pakan ternak. Kalau kata Imelda, akan terjadi peralihan bahan baku pakan. Dari jagung ke gandum. Bukannya gandum lebih mahal?

Yang menjadi pertanyaan, mengapa pemerintah maksa untuk ekspor jagung? Padahal, imelda bilang jumlah produksi jagung sendiri, saat ini masih tidak stabil di sepanjang tahun.

Penyebabnya, banyak petani mengganti jenis komoditas pertaniannya. Kalau tidak diatasi, bahan pakan ternak benar-benar akan beralih ke gandum. Ini punya dampak negatif sendiri.

"Lebih dari 45 persen pakan berasal dari jagung, sehingga kelangkaan jagung pasti akan memengaruhi produksi pakan nasional. Belum lagi rebutan dengan konsumen non pakan," sambung Imelda.

Target produksi jagung nasional sebesar 30 juta ton. Kayaknya enggak realistis. Proyeksi dari pemerintah itu cuma berhitung atas potensi benih jagung yang dikalikan luas lahan.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya