Mahasiswa dan Pemuda Ingatkan Bahaya Radikalisme
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
"Terjadi pertentangan yang sangat tajam antara pemahaman agama yang radikal dengan pemahaman agama Rahmatan Lilalamin," jelas Anas.
Padahal, kata Anas, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang paling cocok rujukan toleransi dan demokrasi terbesar.
Anas berkeyakinan karena Pancasila sangat kompatibel dengan Islam dan tidak saling bertentangan.
"Indonesia bisa menjadi kiblat toleransi. Hanya saja kelemahan sekarang adalah terlalu surplus wacana, minim tindakan nyata," pungkasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
