Kepala Daerah Kerap Ditangkap KPK, Ini Respons Soekarwo
Budi Prasetyo
Surabaya
RILISID, Surabaya — Gubernur Jawa Timur Soekarwo berhadap masyarakat memilih calon kepala daerah berdasarkan bibit dan bobot. Soekarwo menegaskan, memilih berdasarkan asal usul dan perilaku itu juga diterapkan di negara Eropa seperti Belgia.
"Makanya kita balik lihat bobot, bibitnya. Jadi mengangkat direksi anaknya siapa, perilakunya sepeti apa, dugem apa tidak. Punya mobil baru harus dijelaskan, terus kok lipstiknya tebel dari mana. Dari situ baru bisa dinilai dan masuk rangking 11,12,13,14,15," kata Soekarwo pada Kamis (7/6/2018).
Soekarwo menuturkan, menjadi pemimpin harus punya integritas dan moral. Agar perilaku koruptif bisa dihindari dan tidak terjadi.
"Orang kaya baru itu memang aneh-aneh. Wong nyatarter mobil gak lungo-lungo ben krungu tonggone (orang menyalahkan mobil tidak pergi-pergi biar terdengar tetangganya, red)," jelasnya.
Soekarwo menegaskan, di era modern seperti saat ini teknologi tidak bisa masuk intregitas. Maka orang menyuap dan memeras tidak masuk konsep itu.
"Pungli sulit diberantas karena memakai perantara. Jika pilihannya ada di mana-mana, tidak ada pungli," pungkasnya.
Seperti diketahui, KPK dikabarkan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Tulungagung dan Blitar. Beberapa pejabat diamankan dalam operasi itu.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
