Fadli Zon Beberkan Alasan Prabowo Galang Dana
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan, penggalangan dana publik yang di-launching Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto adalah dalam rangka menghindari cukong politik. Tak hanya itu, penggalangan dana publik merupakan cara untuk memutus rantai pengaruh para cukong dan naga dalam sistem politik Indonesia,
Menurutnya, desain sistem politik dan sistem Pemilu Indonesia telah melahirkan konsekuensi biaya politik yang tidak murah. Sayangnya, dukungan publik dan APBN terhadap pendanaan partai politik sangat kecil.
"Tahun lalu dana bantuan untuk parpol hanya sebesar Rp13,5 miliar. Dana itupun harus dibagi untuk seluruh partai. Jadi, setiap satu suara sah dalam Pemilu hanya dihargai Rp108," papar Fadli Zon, Selasa (26/6/2018).
Tahun ini, katanya, sesudah ada PP No. 1/2018, dana bantuan meningkat menjadi Rp124 miliar. Artinya, setiap suara sah dalam Pemilu dihargai Rp1.000. Itupun sebenarnya tak bisa disebut sebagai peningkatan, karena pada periode 1999-2004, besarannya juga sudah Rp1.000 per suara sah yang diperoleh parpol.
"Hanya, pada masa Presiden SBY nilai sumbangannya diturunkan menjadi Rp108. Dengan angka baru tadi, total sumbangan APBN bagi parpol masih kurang dari 0,1 persen," tuturnya.
Jika dibandingkan dengan kebutuhan operasional partai politik di Indonesia, besarnya bantuan APBN itu tentu sangat tak memadai. Tidak ada separuhnya. Sebagai perbandingan, misalnya, untuk mendukung parpol di negaranya, Meksiko memberikan bantuan sebanyak 70 persen kebutuhan operasional.
Itu sebabnya, ujar Fadli, setiap tahun negara menganggarkan dana US$200 juta untuk membiayai sembilan parpol yang ada di sana. Sedangkan untuk dana kampanye negara menyediakan dana tersendiri sebesar U$100 juta. Atau di Jerman, misalnya, tiap suara sah dalam Pemilu di sana dihargai Rp16.000.
"Jadi, sumbangan negara kepada partai politik bukanlah sesuatu yang aneh. Ada sekitar 75 persen negara di dunia memberikan dana bantuan kepada parpol di negara masing-masing. Dan jika dibandingkan dengan besaran subsidi di negara lain, bantuan negara untuk parpol di Indonesia memang relatif rendah," kata Fadli Zon.
Saat ini partai-partai di Indonesia umumnya hanya dihidupi oleh para pengurusnya saja, bukan oleh anggota secara umum. Ini juga barangkali yang telah membuat kenapa pelembagaan demokrasi kita hari ini jadi berimpit dengan korupsi dan oligarki. Karena untuk menutupi biaya politik yang besar tak mungkin hanya mengandalkan kemampuan pengurus. Ujungnya, parpol kemudian bermain mata dengan para cukong politik, atau terjebak dalam penyalahgunaan kekuasaan melalui korupsi."
"Sebagai partai yang berwawasan masa depan, Gerindra ingin menjadi partai modern yang mandiri. Anggota dan simpatisan pada akhirnya harus menjadi basis finansial untuk memandirikan partai. Kami ingin melakukan edukasi tersebut," kata Wakil Ketua DPR RI itu.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
